Mendekati Pembangunan Bait Suci Ketiga (1): Pada Mulanya TUHAN Menciptakan Trump…

Ketika President Amerika Serikat, Donald Trump, mendeklarasikan (atau mengakui) bahwa Yerusalem merupakan ibukota Israel di bulan Desember 2017, diikuti dengan pindahnya Kedutaan Besar AS ke Yerusalem, para Rabbi dan pemimpin di Israel tambah mengejutkan dunia lagi dengan pernyataan-pernyataan mereka bahwa langkah ini merupakan satu langkah yang mendekati era pembangunan Bait Suci yang ketiga.

Perwakilan dari organisasi United Temple Movement, Asaf Fried, ketika itu mengatakan bahwa proses pembangunan Bait Suci ketiga memang seharusnya dipicu oleh seseorang yang bukan Yahudi. Hal ini paralel dengan peristiwa pada zaman Bait Suci kedua, di mana semua proses pembangunannya dipicu oleh Raja Koresh (Ibrani) atau Cyrus (Inggris). Raja Persia ini menetapkan Yerusalem sebagai pusat kehidupan bangsa Yahudi, mengizinkan mereka untuk pulang ke sana dari pembuangan, dan membantu (bahkan memerintahkan) untuk membangun Bait Suci yang kedua di sana. Raja ini disebut sebagai “mesias-nya” TUHAN, atau “orang yang diurapai” milik TUHAN.

כה־אמר יהוה למשיחו לכורש

Demikianlah kata TUHAN kepada Mesiasnya – Koresh…

(Yes 45:1)

Lebih jauh lagi, Ketua United Temple Movement, Yakov Hayman, memprediksi lebih lanjut apa yang akan terjadi. Berdasarkan apa yang terjadi di Kitab Suci Yahudi Tanakh, mengenai Bait Suci yang kedua, setelah langkah nekad Trump, maka semakin banyak negara-negara lain yang akan membuat pernyataan sikap yang sama. “Ketika bangsa Yahudi dan bangsa non Yahudi mulai bergerak bersama-sama, bermassa-massa, maka pembangunan Bait Suci yang ketiga, tidak dapat dihindari lagi,” kata Hayman.

Lebih lanjut Hayman menjelaskan, “Bangsa Israel akan kembali kepada akarnya, dan secara bersama-sama, maka bangsa non-Yahudi akan menyadari kebenaran klaim kami atas Bukit Bait Suci, dan hak kami untuk membangun Bait Suci sebagai Rumah Doa bagi seluruh bangsa.” (Trump’s Jerusalem Declaration Paves Way for Third Temple)

Mirip dengan hal ini, Elisheva Wiriaatmadja dari Eits Chaim Indonesia menulis di status Facebooknya, “Bukan untuk kebaikan Israel-lah, apabila sebuah pemimpin dari negara lain mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Dari dulu sudah demikian, sekalipun bangsa lain akui atau tidak. Sebenarnya, ini untuk kebaikan bangsa-bangsa lain, agar mereka berbalik dan keluar dari penyangkalan mereka.

Tidak perlu berterima kasih kepada Trump untuk pengakuan tersebut. Sebaliknya, berikan mazal tov (selamat), karena beliau baru saja memimpin dunia untuk keluar dari penyangkalan terhadap sebuah kenyataan. Karena hanya dibutuhkan satu suara saja yang cukup keras untuk menembus kegelapan malam, dan sebelum kita menyadarinya, akan ada banyak suara lain yang ikut bernyanyi. Dan subuh akan datang. Mesias akan datang….”

Sejak langkah nekad President Amerika Serikat ini di bulan Desember 2017, tidak lebih dari 24 jam kemudian, bangsa-bangsa lain mulai terlihat mengikuti langkahnya. Dalam bulan-bulan berikutnya sampai 1 tahun kemudian, prediksi dan nubuatan Hayman menjadi kenyataan.

Baca artikel yang berikut: Mendekati Pembangunan Bait Suci Ketiga (2): Maka Terang itu Jadi!

Foto: dari Breaking Israel News.

 

Popups Powered By : XYZScripts.com