Hanukkah: Makna Besar dalam Mukjizat Kecil (4)

Mengapa udang di meja makan, bagi bangsa Yahudi, sama kejinya dengan babi di atas mezbah?

 

Dalam artikel sebelumnya mengenai Hanukkah,  kita telah melihat sekilas bagaimana peristiwa yang melatarbelakangi hari raya Hanukkah ternyata memiliki paralel-nya dengan apa yang pernah terjadi di jaman kita – yaitu yang terjadi di seputar Perang Dunia II. Di bawah ini, ada tabel perbandingan dari kedua peristiwa yang paralel tersebut:

comparison

Dari tabel di atas, mungkin Anda akan heran, mengapa “babi di atas mezbah” disamakan dengan “udang di atas meja makan”? Sekilas, terlihat seolah-olah kedua hal ini tidak seimbang. Berdasarkan hukum Taurat, udang memang merupakan binatang najis. Tetapi, bukankah binatang najis yang ditaruh di atas mezbah adalah dosa yang lebih serius daripada ditaruh di atas meja makan?

Saya mengambil kesempatan Hanukkah ini untuk menjelaskan sesuatu penting mengenai meja makan keluarga Yahudi, terutama meja makan Shabbat.

Meja makan Shabbat menjadi pengganti dari persembahan korban di dalam Bait Suci. Setiap tindakan yang dilakukan ketika sebuah keluarga mengkuduskan datangnya Shabbat di Jumat malam, merupakan sebuah paralelisme dari tindakan yang dilakukan di dalam Bait Suci ketika sebuah korban bakaran dipersembahkan.

Sebelum makan malam disantap, kepala keluarga akan mengucap berkat atas anggur dan menuangkannya ke dalam gelas setiap anggota keluarga yang hadir. Menguduskan hari Shabat melibatkan anggur, karena ketika Bait Suci masih ada, setiap korban bakaran disiram dengan anggur (wine).  LAI menerjemahkannya dengan “korban curahan”. Curahan anggur di atas korban bakaran akan membuatnya semakin wangi dan harum di hadapan TUHAN.

Pada hari kamu mengunjukkan berkas itu kamu harus mempersembahkan seekor domba berumur setahun yang tidak bercela, sebagai korban bakaran bagi TUHAN, serta dengan korban sajiannya dari dua persepuluh efa tepung yang terbaik, diolah dengan minyak, sebagai korban api-apian bagi TUHAN yakni bau yang menyenangkan, serta dengan korban curahannya dari seperempat hin anggur.  (Im 23:12-13)

Dan beserta korban bakaran atau korban sembelihan itu engkau harus juga mempersembahkan seperempat hin anggur sebagai korban curahan, untuk setiap ekor domba yang dipersembahkan. (Bil 15:5)

Dan apabila engkau mengolah seekor lembu, sebagai korban bakaran atau sebagai korban sembelihan, baik untuk membayar suatu nazar khusus maupun sebagai korban keselamatan bagi TUHAN, maka beserta lembu itu haruslah dipersembahkan sebagai korban sajian tiga persepuluh efa tepung yang terbaik, diolah dengan setengah hin minyak, dan sebagai korban curahan haruslah kaupersembahkan setengah hin anggur. Itulah korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.  (Bil 15:8-10)

Setelah minum anggur (baik berupa jus maupun wine), kepala keluarga mengucap berkat atas roti, dan sebelum memecah-mecahkan dan membagi-bagikan roti itu, dia akan membubuhi garam atasnya. Di dalam Bait Suci, setiap korban yang dibawa kepada TUHAN baik korban berupa tepung (LAI – “korban sajian”) maupun korban binatang (LAI – “persembahan”), dibubuhi garam. Garam membuat setiap makanan lebih terasa sedap.

Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah kaulalaikan garam perjanjian Elohimmu dari korban sajianmu; beserta segala persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam. (Im 2:13)

Ketika TUHAN memerintahkan untuk membubuhi garam dan menuang anggur atas semua korban yang dipersembahkan, Dia hendak mengajarkan untuk tidak asal memberi korban, tetapi berikan korban yang terbaik, terharum, dan tersedap.

Meja makan seorang Yahudi menjadi pengganti dari mezbah di Bait Suci. Apa yang mereka tidak dapat lakukan karena tidak ada Bait Suci, mereka lakukan di meja makan. Itu sebabnya menyajikan udang di atas meja makan, sama kejinya dengan mempersembahkan babi di atas mezbah.

Selamat Hari Raya Hanukkah hari ke-4!

1 Comment

Comments are closed.

Popups Powered By : XYZScripts.com