Hanukkah: Makna Besar dalam Mukjizat Kecil (2)

Kejadian bersejarah yang melatar belakangi Hari Raya Hanukkah ternyata adalah pengulangan masa yang lebih lalu dan terulang kembali di masa kini.

Di bagian satu dari serial ini kita telah membahas secara singkat bagaimana perayaan Hanukkah dengan menyalakan menorah Hanukkah (disebut juga hanukkiah) sudah dinubuatkan di dalam Taurat, tepatnya dalam kitab Imamat. Namun apa sebenarnya kejadian sejarah yang menyebabkan perayaan ini?

Sejarah latar belakang Hanukkah dapat dibaca dalam kitab Makabi 1 dan 2. Inti dari kejadian bersejarah ini adalah perang antara bangsa Yahudi dan bangsa Yunani, yang diawali dengan sejumlah orang Yahudi yang jahat di mata TUHAN dan menghendaki agar bangsa Yahudi mengubah gaya hidupnya sehingga menjadi mirip dengan bangsa Yunani.

Pada saat itu keluarlah beberapa orang jahat dari Israel, menyesatkan Israel dengan mengatakan, “Mari kita mengadakan perjanjian dengan bangsa-bangsa di sekitar kita, karena sejak kita berbeda dari mereka, banyak masalah yang buruk telah menimpa kita.” Hal ini dipandang baik oleh rakyat dan mereka mengirimkan pembawa pesan kepada raja.  Raja memerintahkan mereka untuk mengikuti jalan-jalan dan hukum bangsa-bangsa. Mereka mendirikan aula-aula pesta di Yerusalem sesuai dengan budaya bangsa-bangsa, dan mereka tidak menyunat anak-anak laki-laki mereka, dan mereka meninggalkan perjanjian kudus mereka serta menjual diri menjadi jahat di mata TUHAN. (1 Makabi 1:14-17)

Sebagian rakyat Israel ketika itu meninggalkan gaya hidup Taurat mereka dan mengikuti budaya dan cara hidup bangsa-bangsa. Dalam bahasa modern, ini disebut “berasimilasi”. “Asimilasi” berarti peleburan diri (sifat asli/ karakter asli/ cara hidup asli dst) dengan sifat/ karakter dan cara hidup lingkungannya. Ketika bangsa Yahudi melakukan hal ini, ini dianggap jahat di mata TUHAN.

Di dalam kitab Yehezkiel, TUHAN sudah menubuatkan dan memperingatkan bangsa Israel, bahwa ketika mereka berasimilasi dan hendak menjadi sama dengan orang-orang lain di sekitarnya, maka TUHAN akan mencurahkan amarahNya yang besar.

Dan apa yang timbul dalam hatimu sama sekali tidak akan terjadi, yaitu yang kamu katakan: Kami ingin seperti bangsa-bangsa lain, seperti segala kaum di negeri-negeri… Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Hashem Elohim, Aku akan memerintah kamu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung dan amarah yang tercurah. (Yeh 20:33-34)

Singkat cerita, asimilasi-lah yang menjadi pemicu dari perang antara bangsa Israel dengan Yunani. Bangsa Yunani mencemari bukan saja budaya Yahudi tetapi juga Bait Suci mereka. Dengan kemarahan, keluarga Makabi, dipimpin oleh Yehuda Makabi, memimpin perlawanan dan mengalahkan Kerajaan Yunani itu.

Kejadian ini, yaitu asimilasi yang diikuti oleh amarah TUHAN sudah berulang kali terjadi. Satu kali terjadi sebelum zaman Makabi, dan satu lagi sesudah zaman Makabi.

SEBELUM ZAMAN MAKABI

Pada zaman Esther, bangsa Yahudi hampir dilenyapkan oleh seorang Haman. Namun kejadian yang hampir menjadi tragedi mengerikan ini dimulai dengan asimilasi yang tercatat dalam Ester 1. Tidak banyak orang yang membacanya dapat menangkap apa yang salah dengan Ester 1 dan apa hubungannya dengan seluruh sisa cerita Ester. Kenyataannya, pesta yang diadakan oleh Raja Persia Ahasyweros ini menjadi penyebab dari tragedi besar yang hampir menimpa seluruh bangsa Yahudi.

Pada tahun yang ketiga dalam pemerintahannya, diadakanlah oleh baginda perjamuan bagi semua pembesar dan pegawainya; tentara Persia dan Media, kaum bangsawan dan pembesar daerah hadir di hadapan baginda. (Esther 1:3)

Setelah genap hari-hari itu, maka raja mengadakan perjamuan lagi tujuh hari lamanya bagi seluruh rakyatnya yang terdapat di dalam benteng Susan, dari pada orang besar sampai kepada orang kecil, bertempat di pelataran yang ada di taman istana kerajaan. (Esther 1:5)

Minuman dihidangkan dalam piala emas yang beraneka warna, dan anggurnya ialah anggur minuman raja yang berlimpah-limpah, sebagaimana layak bagi raja. (Esther 1:7)

Di dalam pesta ini juga hadir orang-orang Yahudi. Hanya orang-orang Yahudi Orthodox-lah yang tahu bahwa ini adalah tanda-tanda bahaya asimilasi. Yahudi Orthodox tidak pernah makan makanan yang dimasak oleh non-Yahudi. Yahudi Orthodox tidak pernah minum anggur yang diperas dan diproses oleh para penyembah berhala. Ini adalah bagian dari hukum kashrut Yudaisme (hukum mengenai makanan) yang diikuti oleh Yahudi Orthodox dengan sangat ketat. Perlu diketahui, bahwa agama Persia ketika itu adalah Zoroastrianism yang termasuk dalam kategori penyembahan berhala berdasarkan kitab Taurat.

Fakta bahwa Esther dapat menyembunyikan jati dirinya sebagai Yahudi hanya menunjukkan bahwa gaya hidupnya pun sudah terasimilasi, dan jauh dari Yudaisme — dia tidak berdoa 3x sehari, tidak menjaga hukum kashrut, dan tidak menjaga kekudusan Shabbat. Seandainya dia melakukan hal-hal itu, maka dengan segera, dia akan ketahuan jati dirinya yang Yahudi.

Sisa dari cerita ini sudah kita kenal. Tragedi hampir menimpa mereka, ketika Haman bangkit dan merencanakan akan menghapus bangsa Yahudi dari muka bumi ini. Perhatikan bahwa rencana ini akhirnya berhenti ketika Esther membuka topengnya dan menyatakan dengan terus terang bahwa dirinya adalah Yahudi. Dia tidak lagi bersembunyi di dalam asimilasi.

SESUDAH ZAMAN MAKABI 

Ide bahwa bangsa Yahudi perlu berasimilasi dengan budaya Jerman pertama kali dicetuskan oleh Rabbi Moses Mendelson (6 Sep 1729 – 4 Jan 1786) seorang Rabbi Jerman; dan dikembangkan sampai menjadi sebuah gerakan aliran Yahudi non-Orthodox oleh Abraham Geiger (24 May 1810 – 23 October 1874) di Berlin, Jerman. Inti gagasan mereka persis sama dengan gagasan yang tercetus dalam buku 1 Makabi di atas. Berdasarkan kitab tersebut, orang-orang seperti ini dianggap “jahat di mata TUHAN” (1 Makabi 1:17). Hanya setengah abad kemudian sesudah Geiger meninggal, tragedi terbesar sepanjang masa menimpa bangsa Yahudi di Eropa – Holocaust.

Perhatikan bahwa Holocaust dan pembantaian orang Yahudi dimulai di negara dimana ide non-Orthodox untuk berasimilasi diterima dengan luas dan menjadi sebuah gerakan Yahudi baru.

MAKNA BESAR DI BALIK MUKJIZAT KECIL 

Pelajaran perayaan Hanukkah adalah mengingat bahwa ketika bangsa Yahudi punya pikiran aneh untuk mengikuti gaya hidup hukum Yahudi secara longgar, untuk menjadi sedikit demi sedikit semakin mirip dengan bangsa-bangsa lain, maka amarah TUHAN sudah menggantung dan siap dicurahkan.

Dalam setiap kasus di atas, mungkin hanya segelintir orang Yahudi saja yang memiliki ide ini. Tetapi pada akhirnya hukum alam “klal Israel” berlaku. Satu untuk semua, semua untuk satu. Satu orang berdosa dan berasimilasi, semua terkena amarah TUHAN. Dalam setiap kasus di atas, yang terancam tragedi besar bukanlah satu dua orang Yahudi saja. Tetapi seluruh bangsa.

Selamat Hari Raya Hanukkah hari ke-2!

One thought on “Hanukkah: Makna Besar dalam Mukjizat Kecil (2)

Comments are closed.