Pembunuhan Keluarga Litman: Kisah Senyap Gedung Pernikahan yang Sunyi

Artikel ini merupakan terjemahan dari sebuah artikel berbahasa Inggris yang ditulis oleh Varda Epstein, yaitu Litman Murders: The Untold Story of an Empty Wedding Hall

Media merupakan pendongeng yang tidak bernurani dan mudah berubah, mampu menyingkirkan rasa pilu dari satu kisah demi kisah yang lain, entah karena perubahan arah angin opini atau karena skala suatu cerita cukup besar untuk membungkam cerita lainnya. Kedua perumpamaan ini secara relatif cukup tepat, karena dapat menjelaskan mengapa misalnya dunia ini sangat memperhatikan tragedi yang terjadi di Prancis namun tidak mempedulikan tragedi “kecil” yang terjadi di Israel. Perumpamaan ini membantu media menjadi tampak tidak terlalu berhati dingin.

Memang, sebuah serangan terkoordinasi di tiga tempat di mana lebih dari seratus orang terbunuh tentu saja akan jauh lebih menonjol daripada satu kisah di mana hanya dua orang terbunuh, di tempat di mana terorisme merupakan suatu norma, kewajaran, bahkan harga yang harus dibayar oleh para Yahudi karena tinggal di tanah air leluhur mereka.

Namun, kejadian ini tetaplah merupakan hal yang buruk di Israel, dan dengan caranya sendiri, kisah intim dari apa yang terjadi terhadap dua insan manusia ini dapat, dan akan, mencekam hati kita lebih dari apa yang dapat dilakukan oleh ratusan orang yang tidak kita kenal, kalau saja faktanya diketahui. Kalau saja media mau memberitakan apa yang terjadi terhadap suatu keluarga Yahudi pada suatu Jumat sore di jalanan di Yudea.

Namun, mereka hanya diam.

Karena itulah saya mengambil tanggung jawab untuk berupaya mengisahkannya bagi Anda, para pembaca yang baik, dan bagi seluruh dunia, seandainya saja dunia mau meluangkan waktu mendengarkan kisah yang saya ceritakan ini.

Inilah kisah pembunuhan keji terhadap Rabbi Yaakov Litman dan putranya berusia 18 tahun, Netanel. Mereka berkendara dengan lima anggota keluarga Litman lainnya menuju ke Metar, di mana Ariel Biegel, calon mempelai pria dari putri mereka Sarah Litman, akan dipanggil untuk membaca dari gulungan Torah pada hari Shabbat terakhirnya sebagai seorang pria lajang. Para tamu di sinagoga akan menghujaninya dengan permen sambil mengucapkan selamat menempuh hidup baru yang panjang dan berbahagia bersama mempelainya. Mereka akan bernyanyi bersama, dan kedua keluarga akan saling berkenalan sambil menikmati santapan bersama, diiringi berbagai ucapan selamat.

Ariel Biegel dan Sarah Techiya Litman di pesta pertunangan mereka beberapa waktu yang lalu.

Namun, takdir menentukan lain.

Mobil mereka diincar oleh teroris Arab yang diam menunggu korban Yahudi berikutnya, dalam sebuah mobil di sisi jalan. Para teroris menghujani mobil yang berisi keluarga Litman, membunuh sang ayah dan putranya, melukai dan mendukai sang ibu dan anggota keluarga lainnya.

Sarah Techiya Litman, sang mempelai wanita, tidak berada bersama mereka. Secara tradisi, mempelai wanita akan menikmati Shabbat terakhirnya sebagai wanita lajang dikelilingi oleh teman-temannya. Menurut tradisi, mempelai wanita dan pria tidak saling bertemu selama beberapa hari sebelum pernikahan mereka, karena dipercayai membawa sial. Jadi ketika Sarah mengucapkan selamat berpisah kepada ayah dan saudara laki-lakinya ketika mereka berangkat, itulah ucapan selamat berpisah mereka yang terakhir.

Tentu saja, ia tidak menduga hal ini sama sekali.

Bahkan sebelum Shabbat penting dalam hidup seorang wanita Yahudi dimulai, ayah dan saudara laki-lakinya menghembuskan napas terakhir mereka. Dengan cara yang kejam, tiba-tiba, dan menyakitkan.

Dalam seketika, mimpi indah Sarah hancur, tergores, berlumur darah ayah dan saudaranya, dirusak oleh duka dan teror selamanya. Ia tidak lagi dapat memimpikan dirinya melangkah menuju kanopi pernikahan, dibalut gaun pengantin putih, dan ayahnya berdiri menunggunya bersama mempelai pria, dengan senyum di wajahnya yang mencerminkan tahun-tahun yang berlalu sejak ia dilahirkan sampai saat ini.

Tidak. Ayahnya tidak akan ada lagi di sana. Tidak akan ada lagi gaun putih. Tidak minggu ini.

Sebaliknya, Sarah sedang duduk dirundung duka, menjalankan shiva, sebuah tradisi duka selama tujuh hari. Gedung pernikahan tidak akan diisi oleh para tamu yang menikmati santapan lezat dan berdansa sampai larut malam.

Pernikahannya akan tetap berlangsung. Namun semuanya tidak akan sama lagi. Sarah tidak akan memulai hidup barunya dengan suaminya dengan suatu harapan yang indah, melainkan dengan beban yang mengerikan: kenangan yang berdarah tentang ayah dan saudaranya yang dibunuh hanya karena mereka kebetulan berada di tempat yang salah di waktu yang salah, dalam perjalanan merayakan pernikahannya.

Rasanya tidak akan pernah sama lagi. Tidak akan.

Kiri: Netanel Litman (18 th), kanan: Rabbi Yaakov Litman

Namun, dunia ini bahkan tidak memandang kisah kecil Sarah yang pedih dan berlumur darah, Dan mereka tidak akan tahu tentang ambulans Bulan Sabit Merah yang datang ke tempat insiden, menyaksikan korban Yahudi yang tewas dan luka, dan pergi, karena mereka tidak memiliki kepedulian untuk membantu keluarga Litman. Mereka tidak memandang para korban sebagai manusia, melainkan binatang, sehingga pengabaian mereka tidak akan melanggar sumpah jabatan medis mereka. Mereka tidak merasa bahwa sumpah jabatan medis mereka dilanggar ketika mereka meninggalkan Netanel meregang nyawa di hadapan ibu dan saudara-saudaranya dan mayat ayahnya, padahal apabila mereka berhenti untuk membantu, ia mungkin dapat diselamatkan.

Ada tujuh orang di mobil saat itu. Netanel bahkan sempat menggunakan telpon selularnya untuk memanggil bantuan. Dalam pesannya yang terekam, ia dengan jelas berkata, “Ada ambulans Bulan Sabit Merah di sini, namun dia pergi meninggalkan kita. Saya tidak tahu kenapa.”

 

Saya tahu kenapa. Ambulans Bulan Sabit Merah pergi karena mereka tidak sudi membantu orang Yahudi. “Biarkan mereka mati,” kata mereka. Bagi mereka, membunuh orang Yahudi adalah sebuah sunnah. Bagi mereka orang Yahudi tidak layak hidup.

Lagipula, mengapa mereka harus menghargai hidup Yahudi, kalau Agence France-Presse (AFP) sendiri mengeluarkan sebuah kronologi terror yang mendata kejadian terorisme sejak 9/11 sampai sekarang, dan tidak menyebutkan sama sekali insiden di Israel. Prancis, Lebanon, Mesir, Turki, Tunisia, Kenya, Prancis lagi, Kenya lagi, India, Inggris, Spanyol, Indonesia dan Amerika Serikat: semua korban tewas di sini dianggap cukup berharga untuk disebutkan. Inilah yang dinamakan “teror”.

Namun apabila orang Yahudi yang terbunuh, suatu kejadian tidak layak dinamakan teror. Kejadian tersebut sama sekali berbeda, karena bangsa Yahudi merupakan spesies di bawah derajat manusia, bahkan lebih rendah dari kecoa. Kisah Sarah Litman tidak akan diceritakan di CNN, selain sebagai kisah sekilas lalu Warga Palestina Ditangkap Sesudah Dua Pendatang Tewas di Wilayah yang Diduduki.

Kisah ini tidak akan mudah dikenali. Tidak akan ada orang yang tahu bahwa ini adalah sebuah pembunuhan, oleh orang-orang yang tidak membedakan antara rabbi lanjut usia di Yerusalem dan sebuah mobil berisi keluarga dalam perjalanan ke sebuah perayaan di bukit Hebron, sebuah tempat yang merupakan milik bangsa Yahudi bahkan sebelum ada bangsa Arab, dan bahkan jauh sebelum Muhammad dilahirkan.

Tidak akan ada yang mendengar Sarah menangis di hari Shabbat, hari di mana Yahudi dilarang bersedih karena merupakan hari paling bahagia dalam suatu minggu. Tidak akan ada yang mendengar bagaimana ia harus ditopang secara fisik di pemakaman ayah dan saudaranya pada hari di mana ia seharusnya merayakan Shabbat terakhirnya dan tidur di kamar dan tempat tidur masa kecilnya sambil memimpikan mimpi seorang mempelai yang putih penuh renda dan mutiara, dilingkup rasa bangga dan kasih seorang ayah, sambil menyicip anggur dari cawan perak selagi ibunya mengangkat kerudungnya dengan hati-hati.

Mimpi penuh cinta, dan kesempatan merasa cantik, muda dan gemerlap, hendak memulai perjalanan hidup yang baru. Kini semuanya tenggelam dalam darah dan kesedihan, serta kebencian dari sebuah dunia yang memalingkan muka, sambil memberi dalih bagi kematian dua orang Yahudi, karena percaya pada kebohongan bahwa Judea bukanlah bagian dari tanah air bangsa Yahudi, percaya bahwa teroris yang membunuh mereka berbeda sama sekali dari teroris di Prancis, maupun teroris 9/11. Bahwa apabila orang Yahudi yang terbunuh, maka penting untuk diungkapkan di mana mereka tinggal, karena Abbas menghendaki wilayah ini bebas Yahudi dan hal ini haruslah dihormati!

Teror bukanlah teror apabila bangsa Yahudi memiliki apa yang diinginkan para teroris itu: yaitu tanah bangsa Yahudi. Teror bukanlah teror apabila kisah itu menyangkut bangsa Yahudi.

Apabila seorang Yahudi yang mati, itu bukan teror.

Dan dunia akan mempercayai hal ini, mengganti istilah “Zionis” dengan “Yahudi”, percaya dengan “kritik jujur” mereka dan percaya dengan kemurnian kepercayaan mereka. Karena yang penting di sini adalah momentum – momentum untuk memaksa dan memeras Israel dan memandang teroris yang membacok mereka dengan golok di jalan raya serta menembak orang tua di hadapan anak-anaknya sebagai “pejuang kemerdekaan”.

Narasilah yang paling penting.

Bagaimana pun juga, apabila hal ini dianggap teror, Israel akan berada dalam daftar insiden terorisme AFP. Dan Eropa tidak akan melabel  barang-barang produksi wilayah “pendudukan” Israel. Dan PBB tidak akan mengutuk Israel berulang kali sambil memalingkan muka dari pelanggaran hak asasi manusia di seluruh dunia.

Apabila orang Yahudi yang dibunuh, kejadian ini bukanlah teror. Dan seorang mempelai bukanlah seorang mempelai apabila berasal dari spesies yang derajatnya lebih rendah dari manusia, sedemikian rendahnya sampai ambulans medis tidak mau berhenti untuk menyelamatkan ayah dan saudaranya. Sedemikian rendah derajatnya sehingga media utama di dunia tidak akan menceritakan kepada Anda tentang ambulans Bulan Sabit Merah yang hanya memandang sekilas lalu melanjutkan perjalanannya; mempelai yang gedung pernikahannya kini kosong; dua keluarga Yahudi yang tinggal di bukit Hebron di mana para leluhur beristirahat selamanya kini hidupnya hancur oleh kejadian di luar kendali mereka, di dunia yang memuaskan rasa dahaga mereka akan horor dari kisah teror di bagian dunia yang lain.