Generasi Surga dan Bumi

Di dalam kitab Ibrani ada kalimat yang “aneh” yang hilang ke”aneh”annya setelah ditermahkan oleh LAI.

 

Dalam Kitab Kejadian terdapat satu ayat “aneh” yang menjadi tidak “aneh” setelah diterjemahkan oleh LAI.

אֵ֣לֶּה תוֹלְד֧וֹת הַשָּׁמַ֛יִם וְהָאָ֖רֶץ בְּהִבָּֽרְאָ֑ם

Inilah riwayat surga dan bumi ketika diciptakan. (Bereshit 2:4)

LAI menerjemahkan kata Ibrani toldot di sini menjadi “riwayat”. Tetapi kata toldot di tempat-tempat lain dalam Taurat selalu diterjemahkan dengan kata “silsilah”. Daftar dan contoh ayat-ayat dengan kata toldot tersebut dapat ditemukan di dalam artikel “Rahasia di Balik Kata Toldot“.

Apabila mau konsisten, seharusnya kata toldot di dalam ayat ini pun diterjemahkan dengan “silsilah” sehingga bunyi ayat tersebut menjadi sebagai berikut:

Inilah SILSILAH surga dan bumi ketika diciptakan. (Bereshit 2:4)

Namun apa artinya “silsilah surga dan bumi”? Apakah surga dan bumi memiliki keturunan, sehingga kita pun memiliki daftar “silsilah”-nya? Dalam Tanakh Ibrani yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Artscroll, Chumash, ayat ini diterjemahkan sebagai berikut:

אֵ֣לֶּה תוֹלְד֧וֹת הַשָּׁמַ֛יִם וְהָאָ֖רֶץ בְּהִבָּֽרְאָ֑ם

These are the products of the heaven and earth when they were created…

Sekali lagi kita melihat di sini seolah-olah surga dan bumi memiliki “produk” bersama. Seolah-olah mereka ini  dua makhluk hidup yang memiliki produk bersama — yaitu seorang anak. Perhatikan bahwa segera setelah ayat ini, dijelaskanlah bahwa hasil bumi belum keluar. Ini seperti mengklarifikasi bahwa yang dimaksud dengan “produk” bumi tersebut bukanlah tanaman dan pepohonan. Hujan pun belum turun, sehingga yang dimaksud dengan “produk” surga juga bukan air.

…belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun di padang, sebab TUHAN Elohim belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu… (Bereshit 2:5).

Jadi, apa yang mengacu pada “produk” surga dan bumi? Apa yang dimaksud dengan “generasi” atau “silsilah” dari surga dan bumi? Apa yang menjadi hasil “kreasi” bersama dari surga dan bumi? Jawabannya terletak di dalam ayat berikut. Ayat 7 menceritakan bagaimana Adam diciptakan. Dengan detail Taurat mendeskripsikan proses terciptanya Adam.

וַיִּיצֶר֩ יְהוָ֨ה אֱלֹהִ֜ים אֶת־הָֽאָדָ֗ם עָפָר֙ מִן־הָ֣אֲדָמָ֔ה
וַיִּפַּ֥ח בְּאַפָּ֖יו נִשְׁמַ֣ת חַיִּ֑ים
.וַֽיְהִ֥י הָֽאָדָ֖ם לְנֶ֥פֶשׁ חַיָּֽה

Dan TUHAN Elohim menciptakan Sang Adam dengan debu dari tanah; dan menghembuskan ke dalam hidungnya roh kehidupan. Jadilah Sang Adam itu seorang makhluk yang hidup.

Dari ayat ini kita mengetahui bahwa ada dua proses dengan dua bahan dasar pembuatan Adam:

PROSES DAN BAHAN DASAR PERTAMA

Proses pertama melibatkan debu tanah. Materi bahan dasar fisik Adam berasal dari tanah. Ini adalah bahan dasar yang sama dengan bahan dasar yang dipakai untuk membuat anjing, kucing, ular, beruang, dan lain-lain. Pada dasarnya kita punya naluri kebinatangan. Itu sebabnya kita memiliki kecenderungan bertindak seperti binatang: bisa rakus, bisa pelit rebutan makanan, bisa jahat saling membunuh, bisa menggagahi kebebasan dan keperawanan orang lain. Dari antara malaikat dan manusia yang TUHAN sama-sama ciptakan, manusialah yang dapat mengerti binatang sampai kepada titik empati yang tinggi. Karena pada dasarnya bahan dasar pembuatan kita dan mereka adalah sama — dari debu tanah.

PROSES DAN BAHAN DASAR KEDUA

Namun ada satu hal yang membedakan manusia dari binatang: yaitu bahan dasar yang kedua. Setelah TUHAN mengambil debu tanah dan membentuknya menjadi manusia, TUHAN menghembuskan nafasNya ke dalam hidung Sang Adam. Bahan dasar yang kedua untuk membuat Adam, berasal dari SURGA – nafas TUHAN.

Nafas TUHAN yang sama inilah yang dimiliki oleh para malaikat. Seperti malaikat, Adam memiliki roh TUHAN di dalamnya. Tetapi berbeda dari malaikat, Adam juga terbuat dari tanah.

Nafas dan roh TUHAN inilah yang membuat Adam berbeda dari binatang. Dia bisa membedakan antara apa yang dari surga dan apa yang dari bumi; antara nafsu kebinatangan dan kerinduan rohani; antara kenikmatan dunia dan kekekalan surga.

Adam memiliki opsi untuk memilih mengikuti kecenderungan sifat dua bahan dasarnya yang berbeda: sifat tanah atau sifat ilahi. Binatang tidak punya opsi lain selain mengikuti sifat tanahnya. Malaikat tidak punya opsi lain selain mengikuti sifat ilahinya. Adam satu-satunya makhluk yang memiliki kedua opsi tersebut; itu sebabnya manusia memiliki kehendak bebas. Binatang dan malaikat tidak.

Itu juga sebabnya mengapa semua binatang darat berjalan dan berbentuk horisontal, bahkan postur tubuh seekor monyet maupun kera pun, sekalipun mirip dengan manusia, sebenarnya horisontal. Kedua lengan mereka jauh lebih panjang daripada lengan manusia, supaya dekat menyentuh tanah untuk setiap saat menopang berat badan atasnya.

apes

Monyet, kera dan semua binatang di bumi hanya terbuat dari bahan dasar di bumi dan terikat hanya pada bumi. Manusia terbuat dari bumi, oleh karena itu kakinya tetap menapak di bumi. Tetapi dia juga terbuat dari surga, oleh karena itu tubuhnya tegak, berdiri vertikal menunjuk kepada surga, kepalanya menghadap ke surga. Dia adalah makhluk yang dapat menangkap gelombang frekuensi dari surga.

GENERASI SURGA DAN BUMI

Ketika Taurat memulai kisah penciptaan manusia dengan kata-kata ini… “Inilah generasi/ silsilah/ produk surga dan bumi…” Taurat hendak menunjukkan bagaimana Adam merupakan hasil produksi dari dua bahan dasar yang berbeda: (1) debu tanah dari bumi dan (2) nafas TUHAN dari surga.

Namun ada satu ayat lain lagi yang mendukung pengertian ini:

Penciptaan manusia dikisahkan 3x dalam dua pasal pertama kitab Bereshit. Setiap kali, kisah tersebut diceritakan dengan lebih detail daripada kisah sebelumnya. Kisah penciptaan manusia pertama kali disebut dalam Bereshit 1:26, dengan sangat sekilas. Inti dari pasal ini bukanlah proses penciptaan manusianya, tetapi laporan sekilas tentang apa yang terjadi setiap hari dalam 7 hari penciptaan. Perhatikan bagaiman setiap hari dimulai dengan TUHAN mengeluarkan firman untuk menciptakan sesuatu. “Jadilah terang”. “Jadilah cakrawala”. “Hendaklah air berkumpul di satu tempat”. “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas”… dst. Kisah penciptaan diceritakan sehari demi sehari. Setiap hari dengan sekilas.

Setelah seluruh surga dan bumi selesai dibuat, TUHAN menciptakan satu jenis produk atau keturunan dari keduanya. Sebuah produk yang bahan dasarnya terbuat dari SURGA dan juga BUMI. TUHAN berfirman, “Marilah kita…” (Bereshit 1:26)

Di titik ini, TUHAN sudah tidak sendiri lagi. Dia berada di hadapan seluruh surga dan malaikat-malaikat yang terbuat dari bahan dasar di surga. Dan Dia juga berhadapan dengan seluruh bumi dan binatang-binatang yang terbuat dari bahan dasar di bumi. Dari bahan dasar keduanya Adam diciptakan – surga dan bumi. Dan kepada semua elemen di surga dan bumi, TUHAN mengucapkan, “Marilah kita…

Rabbi David Kimchi atau Radak (1160-1235) dan Rabbi Moshe ben Nahmanides atau Ramban (1194-1270) menulis tentang hal ini — Adam dibuat sesuai dengan gambar dan rupa surga dan bumi — karena dari elemen di bumi (tanah), fisik manusia dibuat, segambar dengan binatang. Dan dari elemen di surga (nafas TUHAN) spiritualitas manusia dibuat, segambar dengan malaikat.

Di dalam bahasa Ibrani, tidak ada kata “marilah”. Ayat itu berbunyi demikian:

וַיֹּ֣אמֶר אֱלֹהִ֔ים נַֽעֲשֶׂ֥ה אָדָ֛ם בְּצַלְמֵ֖נוּ כִּדְמוּתֵ֑נוּ

Berkatalah Elohim kita akan membuat Adam dengan gambar dan rupa kita.

Tidak ada “ajakan” seolah surga dan bumi menjadi partner setara TUHAN dalam penciptaan. Tetapi toh surga-bumi menjadi partnerNya seperti suami-istri menjadi partner TUHAN ketika “menciptakan” seorang bayi.

Kata “kita” dalam Bereshit 1:26 mengacu pada elemen-elemen di surga dan bumi. Dengan gambar dan rupa merekalah Adam diciptakan. Sementara kata toldot dalam Bereshit 2:4 yang berarti generasi atau silsilah juga mengacu pada Adam yang merupakan “produk” atau “keturunan” dari surga dan bumi. Kedua ayat ini menyimpulkan dan menyepakati hal yang sama, yang saling mendukung, dan tak terbantahkan.

Popups Powered By : XYZScripts.com