Keseimbangan Demi Kehendak Bebas

Pada suatu Shabbat, ada seorang murid dari Rabbi Tovia Singer yang mengajukan pertanyaan demikian, “Rabbi, jika kita menilik pengalaman Israel di Sinai, dimana TUHAN langsung menampakkan diri, dan suaraNya bisa didengar oleh seluruh bangsa Israel, bukankah itu pengalaman yang bisa mengubahkan seseorang? Mengapa TUHAN tidak melakukannya lagi?”

Rabbi menjawab pertanyaan itu dengan sebuah pertanyaan lain, “Coba kita renungkan, apa yang akan terjadi jika kita mengalami pengalaman gunung Sinai itu setiap hari?”

Lalu para murid mulai mengeluarkan jawaban satu persatu. Ada yang mengatakan, “Manusia tidak akan tahan dan pasti mati, manusia tidak layak mendengar suara TUHAN, sehingga tidak mendengarnya lagi”. Rabbi merespon, “Ya memang ketika Israel di gunung Sinai, dalam pengalaman itu, setidaknya tiga kali mereka dalam satu bangsa itu mati, sehingga malaikat harus membangunkan mereka kembali, tetapi bukan itu esensinya.”

Esensi sesungguhnya adalah jika pengalaman Sinai itu terjadi setiap hari, maka tidak akan ada lagi kehendak bebas. Artinya, akan sangat jelas siapa itu TUHAN, dan siapa yang harus kita ikuti dan kita sembah. Tidak perlu lagi kehendak bebas, maka semua orang pasti akan memilih yang benar, tidak berani macam-macam. Ini tidak sesuai dengan esensi dan tujuan dari TUHAN menciptakan dunia ini.

Rabbi melanjutkan dengan menjelaskan hikmat di balik penciptaan dunia, “Dunia kita ini, yang diciptakan oleh TUHAN, bisa dibayangkan seperti sebuah tabung ciptaan seorang ilmuwan. Dan ilmuwan ini menempatkan tombol-tombol pengatur untuk memastikan lingkungan di dalam tabung yang dia ciptakan tersebut bisa menjadi tempat kehidupan (ekosistem). Demikian juga dengan TUHAN, Dia menciptakan jagat raya ini, untuk manusia, Dia yang mengatur semuanya agar manusia bisa hidup di dalamnya. Di dalam jagat raya ini ada dua tombol yang terkait dengan kehendak bebas ini yang senantiasa diatur oleh TUHAN, sehingga menciptakan keseimbangan kondisi, supaya manusia bisa menentukan pilihan terhadap kehendak bebasnya. Dengan demikian, tidak bisa ada kondisi dimana kondisi supranatural dari TUHAN melebihi kadar batas, sehingga menyebabkan keseimbangan itu terganggu.

Demikian juga halnya dengan kadar KEBAIKAN dan KEJAHATAN dan semua parameter lainnya yang berhubungan dengan kehendak bebas. Rabbi memberi contoh lain: pada saat revolusi industry, ilmu pengetahuan seakan-akan terbuka lebar, dan akselerasi penemuan-penemuan yang bermanfaat bagi manusia terjadi. Jika ini dibiarkan tanpa penyeimbang, maka manusia dengan gampang menemukan TUHAN, sehingga kehendak bebas menjadi tidak berfungsi. Oleh karena itu, TUHAN ijinkan adanya Charles Darwin dengan teorinya, sehingga ada pilihan buat manusia, untuk mempercayai bahwa TUHAN-lah Pencipta atau mempercayai teori Darwin, bahwa manusia adalah monyet versi yang lebih canggih.

Dan sampai saat ini pun, kondisi keseimbangan agar kehendak manusia tetap ada, tetap dijaga oleh TUHAN. Dengan demikian, berbahagialah kita, yang memilih TUHAN, percaya kepada firmanNya, jalan-jalanNya dan semua hukum-hukum dan ketetapanNya. Karena artinya dalam kondisi yang memungkinkan kita untuk memilih yang salah, ternyata kita telah menjatuhkan pilihan yang benar.

1 Comment

Comments are closed.

Popups Powered By : XYZScripts.com