Pengakuan Aktivis Pro-Palestina di Hebron 2007

Artikel ini merupakan terjemahan dari artikel yang berbahasa Inggris. Sumber asli: Confession of A Pro-Palestinian Activist in Hebron 2007. Apabila sumber asli tidak dapat dibuka, Anda dapat melihat artikel aslinya di sini.

DanielBorg

Daniel Borg bersama dua anak Palestina di Hebron.

Daniel Borg adalah seorang pria asal Swedia yang terlibat secara aktif dalam politik Swedia, seorang aktivis pro-Palestina yang bersemangat dan menggabungkan diri secara sukarela dalam International Solidarity Movement (ISM). [ISM adalah organisasi yang mendampingi perjuangan Palestina dalam konflik Palestina-Israel. Organisasi ini memanggil kaum sipil di seluruh dunia untuk berpartisipasi dalam protes tanpa kekerasan terhadap militer Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza. ~Editor] Artikel ini ditulis olehnya (dalam bahasa Inggris) berdasarkan observasinya dari dalam IMS. 

Pelatihan Saya di Palestina: Anti-Kekerasan atau Kekerasan?

Sebelum bergabung dengan kelompok ISM di Hebron, saya menjalani pelatihan di Ramallah selama 2 hari. Isi pelatihan tersebut mencakup: cara membokir petugas IDF (Israeli Defense Force – tentara Israel); bagaimana berjalan di lingkungan pemukiman dan mengirim sinyal kepada koordinator gerakan akan kedatangan patroli IDF; cara dan waktu yang aman untuk keluar dan menghadap militer tanpa ditembak; cara melindungi bangungan yang akan dihancurkan oleh IDF; serta cara melindungi para militan yang melempar batu dan molotov.

Ya. Seperti itu pekerjaan kami. PLO (sekarang Fatah, walaupun mereka sama saja) mengeksploitasi orang-orang Barat muda yang punya niat baik untuk membantu, menjadikan kami tameng manusia, dan memungkinkan agenda terorisme mereka. Para koordinator Fatah menjelaskan kepada kami bahwa ISM menggunakan metode anti-kekerasan dalam perlawanan mereka. Tetapi secara bersamaan, apabila seorang Palestina memilih untuk menggunakan kekerasan, tugas kami adalah menjadi tameng mereka. Orang Palestina-lah yang hidup di bawah penjajahan dan keaiban, bukan kami kaum aktivis dari negeri Barat. Oleh karena itu, kami harus membiarkan mereka mengambil keputusan-keputusan operasional, sementara para sukarelawan internasional ini ada di sana untuk bertugas sebagai tameng manusia, dan melindungi mereka dari IDF.

Kami menghabiskan banyak waktu untuk berlatih bagaimana caranya berteriak dengan suara yang  tinggi untuk menakut-nakuti anak-anak kaum pendatang. Instruksi kami adalah apabila anak-anak kaum pendatang mendekati kami dan hendak melakukan kekerasan, kami harus mengejutkan mereka dengan cara berteriak sekeras mungkin sampai mereka panik dan lari. Kami banyak berlatih dalam mengeluarkan suara-suara tinggi seperti ini. Apabila ada seseorang dari Ramallah membaca ini, saya memohon maaf sebesarnya apabila karena suara-suara ini, Anda tidak dapat tidur.

Penyalahgunaan Hukum

Selama jam pertama dalam pelatihan di Ramallah, setiap aktivis memberikan koordinator PLO-nya sebuah amplop tertutup berisi nama, alamat, informasi keluarga, negara asal, afiliasi politik, dst. untuk dipakai apabila kami ditangkap atau terbunuh. Mereka memastikan agar kami mengerti, bahwa apabila kami dipukuli atau dibunuh oleh IDF, maka itu akan sangat merusak nama baik Israel, akan tersebar luas di media dan mungkin menjadi akhir dari penjajahan. Karena saya ketika itu adalah ketua atas sebuah organisasi pemuda demokrasi sosial di kampung halaman saya, saya dianggap berguna dan menarik. Seandainya IDF menangkap atau membunuh saya, tentu ini menjadi berita utama setidaknya di Swedia.

Di dalam lubuk hati saya, saya paham bahwa ini adalah contoh sempurna dari penyalahgunaan hukum. Dengan kehadiran saya, yang adalah orang asing, mungkin IDF tidak akan memakai otoritas penuh mereka untuk menyelesaikan sebuah operasi keamanan, dan akibatnya, mereka akan membiarkan lepas orang-orang Palestina yang saya tamengi. Ini adalah kemenangan bagi kaum teroris. Atau bisa saja IDF mengacuhkan kehadiran saya, dan tetap menyelesaikan misi mereka, dengan kemungkinan saya terbunuh bersama dengan kaum teroris. Ini pun sebuah kemenangan bagi teroris. Karena, mereka dapat memakai kematian saya sebagai alat propaganda untuk memenangkan dukungan internasional. Namun saya merasa berguna. Ketika itu, saya bersedia melakukan apa saja untuk dapat membantu kaum Palestina. Saya tidak takut dan sangat idealistik. Tugas saya adalah memonitor kehadiran para prajurit Israel. Saya pikir, itu adalah pekerjaan yang berat, karena semua koordinator PLO, orang-orang Btzelem, dan orang-orang Palestina biasa, dst. menjelaskan kepada saya sebelumnya, bahwa para prajurit IDF ini penuh dengan kekerasan, dan selalu melempar batu kepada kaum Palestina, membantu kaum pendatang untuk menyerang anak-anak Palestina. Dan hal yang membuat saya paling takut adalah mereka mengatakan bahwa para prajurit IDF ini kadang-kadang menangkap, memborgol dan memukuli kaum aktivis ISM.

Kelakuan Prajurit IDF

Pagi hari pertama saya di Hebron:

Seorang prajurit IDF yang masih muda berdiri di pos penjaganya, di jalan masuk menuju pemukiman Yahudi Tel Rumeida. Di sana beberapa keluarga Palestina juga ikut tinggal. Prajurit ini memanggil seorang anak Palestina berumur 10 tahun, yang sedang berjalan menaiki bukit untuk menghampirinya. Terlihat sekali anak itu sangat ketakutan dan dengan ragu menyeret kakinya berjalan menuju prajurit itu.

Ketika anak itu semakin mendekat, prajurit tersebut bergerak mendekati anak itu juga. Di sini jantung saya berdebar-debar dengan keras, karena saya sangat meyakini bahwa prajurit ini akan menangkap atau memukuli anak ini. Oleh karena itu, saya segera mengambil kamera saya untuk merekam kekerasan brutal yang akan terjadi. Ternyata, dengan terkejut, saya menyaksikan bagaimana prajurit itu menyalami anak tersebut dan meletakkan tangan yang satunya ke bahu anak itu. Prajurit itu mulai berbicara dengannya dengan santai sekali. Segera anak Palestina ini tersenyum lebar dan mereka bercengkerama dan becanda selama beberapa menit di bawah terik matahari bulan Juni. Saya lega sekali, dan juga sangat terkejut, dan meletakkan kamera saya. Tidak ada yang dapat direkam di sini.

Ya, saya sangat takjub ketika itu. Pertemuan antara prajurit IDF dan anak Palestina ini sama sekali kontradiksi dengan segala sesuatu yang pernah dijelaskan pada saya dan bertolak belakang dengan apa yang saya pikir merupakan kelakuan normal para prajurit IDF. Tentu saya kira bahwa kelakuan prajurit ini merupakan satu sifat manusiawi yang jarang di antara kelakuan agresif IDF secara umum. Kira-kira seperti satu lumba-lumba di antara lautan ikan hiu.

Tapi ternyata tidak demikian. Kelakuan seperti ini justru adalah kelakuan yang normal bagi IDF. Saya memonitor kelompok prajurit IDF lainnya dari pagi hari sampai malam hari, dan pada dasarnya, cara mereka memperlakukan orang Palestina adalah sangat tidak campur tangan, dan penuh penghormatan. Tidak pernah sekali pun saya melihat sesuatu yang sedikit mirip saja dengan aksi kekerasan. Saya menghabiskan waktu 3 minggu untuk memonitor prajurit IDF dengan kamera yang menggantung di leher saya. Tidak ada apa pun yang bisa saya rekam. Tidak ada pelanggaran hak asasi manusia.

“Whitewashing”

Suatu saat, seorang prajurit IDF menggerakkan tangannya ke arah saya dan meminta saya untuk mendekatinya. Dia hendak mengajukan satu pertanyaan: bagaimana mungkin saya bisa bekerja untuk Fatah, menyebut diri aktivis hak asasi manusia, padahal baru saja di hadapan kami, beberepa meter saja dari tempat kami berdiri, Fatah membunuh seorang gay Palestina, dengan cara mengikatnya di atas mobil dan mengendarai mobil itu dengan kasar menuju Hebron? Saya sendiri terkejut mendengar pertanyaan ini. Apakah saya sedang menerima pelajaran hak asasi manusia dari seorang prajurit IDF? Saya menjawabnya dengan menuduh prajurt Israel tersebut sedan melakukan  “whitewashing“. [Whitewashing adalah tindakan menutupi kejahatan sendiri dengan menunjuk kejahatan orang lain. ~Editor].

Prajurit IDF itu sepertinya tidak mengerti konsep “whitewashing” yang saya tuduhkan kepada dia.  Tetapi saya diam-diam merenungkan apa yang dikatakannya. Saya bekerja bagi Fatah, kaum moderat, kaum aktivis perdamaian, bahkan kaum Yahudi Israel. Hukum shariah yang berlaku di Palestina, sekalipun terlihat tidak adil, tetap tidak dapat membenarkan keberadaan Israel di sini. Itu sebabnya saya menuduhnya melakukan “whitewashing“.

Keberadaan Hamas

Minggu berikutnya sedikit berbeda. Di titik ini, saya telah memahami bahwa para prajurit IDF ternyata sangat baik. Mereka memperlakukan saya dan semua orang Palestina dengan rasa hormat. Selama waktu makan siang, saya memutuskan untuk naik ke apartemen milik PLO dan mengambil kopi. Dengan secangkir kopi saya itu, saya berdiri menghadap Hebron, dengan pemandangan penuh atas area pasar Hebron Arab. Dari tempat saya berdiri, saya melihat dua orang laki-laki keluar dari mobil, mengeluarkan senjata dan mulai menembak dengan sangat intensif ke arah pasar. Pasar itu penuh dengan keluarga-keluarga Palestina yang sedang berbelanja. Mereka ditembaki di sana, semua mencoba untuk melarikan diri dan saya merekamnya dari tempat saya berdiri.

Penembakan itu berlangsung sedemikian lama, sehingga saya memiliki cukup waktu untuk naik ke atap bangunan dan melanjutkan rekaman tersebut. Inilah Hamas.

Segera saya berlari untuk memperingatkan kolega sesama aktivis yang lain, serta menginformasikan para prajurit IDF, dan menghubungi kaum koordinator. Para prajurit IDF menutup pos pemeriksaan dan mengumpulkan semua prajurit yang ada. Ini adalah penyerangan Hamas yang pertama di Tepi Barat, untuk mencoba menguasainya setelah berhasil di Gaza. Mahmoud Abbas mengumumkan status darurat selama beberapa hari. Satu-satunya yang aman di tempat ini adalah komunitas Palestina, kaum Yahudi dan aktivis asing yang dilindungi oleh prajurit IDF di pos pemeriksaan, yaitu di daerah kekuasaan pemerintah Israel.

Saya lega sekali bahwa ada pos pemeriksaan IDF di situ, sehingga kemananan kami terjamin, terlindung dari kegilaan Hamas. Ironisnya, saya tidak menyadari saat itu, bahwa saya datang ke Hebron untuk mendokumentasi kejahatan perang Israel, tetapi ternyata membawa pulang dokumentasi kejahatan perang Palestina, dan kemanusiawian Israel.

Yang Tidak Saya Ketahui Tentang Hebron 

Sebelum waktu saya di Hebron, saya tidak menyadari bahwa komunitas Yahudi yang sangat kecil di Hebron menerima serangan teror tanpa henti oleh Hamas. Saya tidak menyadari bahwa para penduduk Yahudi dibunuh setiap kali mereka keluar tanpa perlindungan – anak-anak, wanita dan orang-orang tua. Saya tidak tahu bahwa Israel memiliki kontrol yang sangat efektif atas bagian yang sangat kecil di Hebron. Dan saya tidak tahu bahwa ternyata Hebron memiliki arti sejarah dan agamawi yang penting bagi kaum Yahudi. Sebelum saya ada di sana, saya tidak menyadari bahwa apartheid sejati di Hebron berasal dari orang Arab terhadap komunitas kecil Yahudi di sana.

Lebih-lebih lagi, sebelum waktu saya di sana, organisasi tempat saya datang untuk bekerja, yaitu ISM yang dipimpin oleh Fatah, secara aktif menginstruksikan anak-anak Palestina untuk melempar batu kepada orang-orang Yahudi, kadang-kadang sampai membunuh korbannya. Saya juga tidak mengetahui bahwa ketika Fatah menginginkan kami untuk menjadi tameng manusia agar melindungi seseorang atau sebuah bangunan dari operasional IDF, biasanya mereka ini adalah teroris atau sedang merencanakan penyerangan terhadap orang Israel sipil. Inilah yang terjadi dengan Rachel Corrie. [Rachel Corrie adalah seorang kelahiran Amerika yang menjadi aktivis ISM pro-Palestina dan terbunuh oleh IDF. Kawan-kawannya sesama aktivis ISM melaporkan bahwa Rachel Corrie meninggal karena dijadikan tameng manusia. Laporan lengkap ada di TheGuardian.com. – Editor]

Dari mana saya bisa tau? Dari mana kolega-kolega kami tahu? Kami direndam di dalam narasi Pro-Palestina palsu yang dikarang oleh CNN, New York Times, Le Monde, dan semua partai politik Eropa yang sayap kiri, maupun semua guru-guru sayap kiri kami. Ketika bergabung dengan ISM, saya mendapatkan satus sosial, politik dan pendidikan dari sebuah organisasi teroris yang Anti-Konvensi Jenewa. [Konvensi Jenewa dan Protokol-protokol Tambahannya adalah inti dari hukum humaniter internasional – badan hukum internasional yang mengatur perilaku konflik bersenjata dan berusaha untuk membatasi dampaknya. Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol Tambahan 1977 secara khusus melindungi orang yang tidak mengambil bagian dalam permusuhan (warga atau penduduk sipil, pekerja kesehatan dan pekerja bantuan kemanusiaan) dan mereka yang tidak lagi terlibat dalam permusuhan, seperti tentara yang terluka, sakit dan kapalnya karam dan tawanan perang. Untuk lebih lengkapnya baca di situs ICRC. ~Editor]