Awal Perjalanan Hidup Abraham

Pelajaran parsha oleh Rabbi Tovia Singer, disadur oleh Leo Yuwono, dan diedit oleh Elisheva Wiriaatmadja.

UJIAN ABRAHAM

Kita diperkenalkan kepada sosok Abraham di bagian akhir dari Parashat Noah yang sudah kita pelajari minggu lalu. Di sana kita belajar bagaimana kualitas seorang Abraham yang benar-benar hanya ingin memashyurkan nama Hashem saja. Setelah ‘menemukan’ sosok Abraham, TUHAN mulai mengajak Abraham untuk berjalan bersama dia, dan dengan demikian dimulai juga ujian-ujian yang harus dilalui oleh Abraham.

וַיֹּ֤אמֶר יְהוָה֙ אֶל־אַבְרָ֔ם לֶךְ־לְךָ֛
Berfirmanlah TUHAN pada Abram, “Pergilah.”
(Bereshit 12:1)

Kata “pergilah” di dalam bahasa Ibrani adalah “lekh-lekha“. Lekh-lekha ini memiliki arti yang sangat dalam, bukan hanya sekedar perintah untuk pergi, tetapi, “Pergilah bagimu.” Atau dengan kata lain, “Pergilah demi kebaikanmu”. Karena jika Abram tetap tinggal bersama sanak-keluarganya, maka Abram tidak akan bisa mempunyai anak, dan tidak akan bisa menjadi bangsa yang besar. Jadi kata lekh-lekha ini, mengandung janji dari TUHAN juga kepada Abram. Janji tersebut ditegaskan dalam ayat ke-2.

Perhatikan di ayat pertama, setelah perintah untuk “pergi demi kebaikanmu’, ada penjelasan yang sepertinya terkesan berulang, yaitu,

לֶךְ־לְךָ֛ מֵאַרְצְךָ֥ וּמִמּֽוֹלַדְתְּךָ֖ וּמִבֵּ֣ית אָבִ֑יךָ אֶל־הָאָ֖רֶץ אֲשֶׁ֥ראַרְאֶֽךָּ
Pergilah bagi dirimu sendiri, dari tanahmu, dan dari tempat masa kecilmu, dari rumah ayahmu, kepada negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. (Bereshit 12:1)

Di dalam Taurat, tidak ada kata yang dituliskan tanpa alasan. Di sini Taurat sedang menjelaskan kepada kita, bahwa perintah untuk “pergi”, mengandung pergumulan yang dalam. Abram disuruh (1) meninggalkan properti dan home-nya; (2) meninggalkan semua yang dia kenal sejak masa kecilnya, tempat dia bertumbuh; (3) meninggalkan orang tuanya yang sudah lanjut usia. Namun ujian ini tidak berhenti di sini. Setelah disuruh “pergi”, Abram hanya diberi petunjuk yang tidak jelas kemana tujuan kepergiannya, (4) “…kepada negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.”

NAMA YANG DIMASYURKAN

Di ayat kedua, ada satu janji TUHAN kepada Abraham , “dan Aku akan membuat namamu menjadi besar”. Dampak dari janji ini bisa kita lihat sampai sekarang, Abraham dihormati oleh 3 agama besar di dunia (Yudaisme, Islam, Kristen) yang mengakui kebesaran Abraham, dan mengakui iman mereka adalah berdasarkan dari kepercayaan Abraham. Sementara ada orang-orang yang bisa berkata negatif mengenai nabi-nabi dan para orang benar lainnya, bahkan termasuk Musa, di pihak lain kita tahu tidak ada yang berani berkata negatif sedikitpun tentang Abraham. Bahkan di dalam generasi kita saat ini pun yang tidak pernah berjumpa secara fisik dengan Abraham, tidak berani mengatakan hal-hal yang negatif mengenainya.

Di ayat ke-2 ini, TUHAN menjanjikan kebesaran NAMA Abraham. Namun demikian, ketika itu nama Abraham belum “Abraham”, tetapi “Abram”. Mengapa sekarang nama yang besar ini adalah “Abraham” bukan “Abram”? Apakah janji TUHAN ini meleset?

Ketika kita bicara mengenai “membesarkan” atau “memasyurkan” nama seseorang, ini tidak ada hubungannya dengan “nama” tersebut secara harfiah. Tetapi yang hendak dimasyurkan adalah REPUTASI Abraham, PRIBADI-nya. Biarpun namanya berubah dari Abram menjadi Bambang, misalnya, yang penting bukan “Bambang” atau “Abram”-nya. Yang penting adalah REPUTASI dan PRIBADI dari orang yang menyandang nama tersebut. Itulah yang dimasyurkan atau dibesarkan.

Demikian juga halnya dengan nama TUHAN. Di dalam seluruh Tanakh, ada perintah-perintah di mana kita diharuskan untuk “memasyurkan” dan “membesarkan” nama TUHAN. Ada beberapa kelompok yang menafsirkan perintah ini secara harfiah. Mereka sekonyong-konyong mengambil nama TUHAN yang kudus, dan mengobralnya dengan cara menyebut-nyebut namaNya tanpa gentar. Tetapi sebenarnya bukan itu yang dimaksud dengan perintah tersebut. Ketika kita diperintahkan oleh TUHAN untuk “memasyurkan” dan “membesarkan” nama TUHAN, yang perlu kita masyurkan dan besarkan adalah REPUTASI-Nya, PRIBADI-Nya, ATRIBUT-ATRIBUT-Nya!

KUTUK YANG MENJADI TERANG 

TUHAN melanjutkan dengan sebuah janji berkat yang sangat terkenal yaitu.

וַאֲבָֽרֲכָה֙ מְבָ֣רְכֶ֔יךָ וּמְקַלֶּלְךָ֖ אָאֹ֑ר
V’avarkha m’varakheikha, um’qalelekha a-or.

Aku akan memberkati mereka yang memberkati engkau,
dan mereka yang mengutukmu, akan Kukutuk. (Bereshit 12:3)

Dan Aku akan memberkati orang-orang yang memberkatimu, dan mengutuk orang-orang yang mengutukmu, dan di dalam mu, seluruh keluarga di bumi ini, mendapat berkat (Bereishit 12:3)

Perhatikan bahwa akar kata yang dipakai untuk “memberkati mereka” dan “memberkati engkau” adalah sama yaitu “barakh” – ב.ר.כ. Tetapi kata yang dipakai untuk mengatakan “mengutukmu” dan “akan Kukutuk” ternyata  berasal dari dua akar kata yang berbeda yaitu “qalel” – .ק.ל.ל. dan “or” –  אור.

Kata “or” di dalam bahasa Ibrani sebenarnya berarti “terang”. Kata “kutuk” yang menggunakan akar kata “qalel” adalah kutuk yang membinasakan. Tetapi kata “kutuk” yang memakai kata “or” adalah kutuk yang ditujukan untuk membuat orang itu melihat terang dan bertobat.

Maka dengan kata lain, janji ini sebenarnya mengandung pesan demikian, “Aku akan memberkati mereka yang memberkati engkau. Dan kepada mereka yang mengutuk engkau, akan Kuberikan Terang.”

Betapa indahnya TUHAN, senantiasa mengharapkan manusia itu bertobat dan kembali kepadaNya!

JIWA-JIWA YANG DIPEROLEH DI HARAN 

Kemudian Abram mentaati TUHAN. Dia pergi dengan membawa Sarai, Lot, seluruh kepunyaannya, lalu pergi menuju tanah Kanaan. Bersama mereka, ternyata ada orang-orang lain.

וְאֶת־הַנֶּ֖פֶשׁ אֲשֶׁר־עָשׂ֣וּ בְחָרָ֑ן
…dan dengan jiwa-jiwa yang dia [Abram] buat di Haran. (Bereshit 12:5)

LAI menerjemahkan bagian ini menjadi, “…orang-orang yang diperolehnya di Haran”. Namun bahasa Ibraninya menunjukkan bahwa jiwa-jiwa ini “dibuat” oleh Abraham. Apa maksudnya?

Selama di Haran, Abram mendirikan semacam penginapan tempat persinggahan bagi para musafir. Di sana mereka diberikan tempat istirahat, dan bahkan diberikan makanan, tanpa dipungut bayaran. Setelah selesai melepas lelah, makan dan minum, musafir-musafir tersebut diajarkan untuk berdoa dan mengucap syukur kepada satu-satunya TUHAN yang menciptakan langit dan bumi, dan yang telah menyediakan segala sesuatu bagi manusia. Pada zaman itu, penyembahan berhala adalah hal yang biasa, sehingga apa yang Abram lakukan ini, sangat menarik para musafir. Akibatnya banyak di antara mereka yang ingin tahu lebih lanjut, dan mulai belajar dengannya mengenai TUHAN yang Esa.

70 orang dari mereka menjadi percaya kepada kesaksian Abram dan mengikuti kepercayaannya. Mereka belajar Taurat TUHAN (yang ketika itu baru berupa Taurat Lisan, belum tulisan). Mereka menjadi jiwa-jiwa baru yang bukan lagi penyembah berhala, tetapi menjadi penyembah TUHAN yang Esa, dan mengikuti Abram ke tanah Kanaan. Itulah sebabnya dikatakan bahwa bersama mereka ada “jiwa-jiwa yang dibuat oleh Abram” yang ikut ke Kanaan. Mereka adalah jiwa-jiwa yang diciptakan ketika perubahan haluan penyembahan dari Politeisme ke Monoteisme.

MONOTEISME VS POLITEISME

Monoteisme adalah penyembahan hanya kepada TUHAN yang satu (1) atau Esa. Karena ke-Esa-annya ini, kekuasaan dan kemuliaanNya tidak terbatas. Semuanya dikuasai oleh Satu TUHAN ini.

Politeisme adalah penyembahan lebih dari satu Tuhan. Bisa 2, 3 atau ratusan Tuhan. Politeis membagi-bagi Tuhan menurut fungsinya, misalnya, ada Tuhan yang berkuasa atas angin, api, air, tanah dst. Tuhan yang berkuasa atas api tidak berkuasa atas air, tanah dst. Tuhan-tuhan yang banyak ini, memiliki daerah kekuasaan yang terbatas, dan oleh mereka tidak mengenal tuhan yang tidak terbatas.

Dalam kekristenan kita mengenal istilah Tritunggal yang tidak ada satu orang pun bisa mendefinisikan istilah Tritunggal ini. Sekte kekristenan yang satu berbeda tafsir dan definisi dengan sekte lainnya. Namun adanya tiga pribadi ini menyebabkan tidak mungkin ada TUHAN yang tidak terbatas.  Sang Bapa tidak bisa melakukan penyelamatan manusia tanpa perantaraan Sang Anak. Sang Anak tidak tahu bilamana Ia harus datang kembali karena hanya Bapa yang tahu. Sang Roh tidak bisa datang jika Sang Anak belum pergi, dan seterusnya. Karena ada lebih dari satu, maka tidak ada satupun yang dapat menjadi TUHAN yang tidak terbatas.

Pergeseran dari monoteis menjadi 2 Tuhan otomatis membuka pintu bagi munculnya Tuhan ke-3, ke-4, dst. Ini sama dengan membuka pintu comberan dan semua kekotoran keluar. Dengan munculnya oknum kedua yaitu Tuhan Anak, tidak lama kemudian muncul Tuhan RK, kemudian Maria mulai disembah, kemudian para martir (santo & santa) mulai disembah. Perkembangan kekristenan akhirnya sampai pada titik di mana muncullah teologi Satanisme sebagai malaikat pemberontak. Malaikat ini dipercayai telah mengudeta kekuasaan Tuhan sehingga dunia terbagi 2 antara yang baik (Tuhan) dengan yang jahat (Satan).

Di sini ada keterbatasan Tuhan untuk menjadi “jahat”. Setan adalah musuh TUHAN seolah-olah memiliki status dan kekuasaan sama kuatnya dengan TUHAN. Sehingga ada Mesias asli dan ada Mesias palsu. Ada Kristus dan ada Anti-Kristus. Ada kekuatan yang baik, ada kekuatan yang jahat. Dengan demikian, ketika kekristenan percaya bahwa Tuhan di dalam Tritunggal adalah Maha Baik, dan tidak ada kejahatan di dalamnya, maka mereka memiliki kesulitan untuk menjawab, darimana asalnya ular di Taman Eden? Darimana asalnya kejahatan? Tuhan terbatas, tidak dapat “menciptakan” kejahatan.

Di dalam monotheisme Yahudi, TUHAN adalah pencipta segala sesuatu, baik yang jahat dan yang baik.

Ketika monoteis bergeser menjadi politeis, yang terjadi adalah Tuhan yang tak terbatas menjadi terbatas.

MEMPERTAHANKAN HIDUP 

Setelah Abram sampai di tanah Kanaan, ujian berikutnya menghadangnya, – kelaparan. Bisakah kita bayangkan situasi yang dihadapi oleh Abram saat itu? Setelah dia taat meninggalkan segalanya, berjalan mentaati Hashem, tiba di tanah Kanaan, bukannya penghargaan dan berkat didapatnya, tetapi malah dihadapkan dengan kelaparan. Kelaparan sedemikian hebatnya, sehingga Abram terpaksa harus mencari daerah di mana dia bisa bertahan hidup. Kita ingat bahwa dalam Yudaisme, mempertahankan hidup adalah segalanya. Dan tempat yang masih ada makanan untuk bertahan hidup saat itu adalah Mesir.

Mesir ini adalah tempat yang unik, sebuah negara di padang gurun, tidak pernah turun hujan, tetapi pasokan air tetap melimpah dari sungai Nil, sehingga memungkinkan tumbuh-tumbuhan tetap hidup dan kegiatan bercocok tanam tetap berjalan sepanjang tahun. Dengan demikian, orang-orang yang tinggal di daerah seperti ini sangat mudah berkata, “Aku tidak membutuhkan Tuhan!” Karena semua yang aku butuhkan sudah tersedia. Dan inilah yang memang terjadi di Mesir, sebuah negara yang sangat rusak, bobrok jahat di mata Hashem, dan Abram tahu hal ini.

Perhatikan kata yang digunakan oleh Torah untuk menunjukkan perjalanan Abram ke Mesir

וַיֵּ֨רֶד אַבְרָ֤ם מִצְרַ֙יְמָה֙ לָג֣וּר שָׁ֔ם
dan Abram turun ke Mesir untuk tinggal di sana
(Bereishit 12:10).

Taurat menggunakan kata yeder (turun) untuk menggambarkan perjalanan Abram ke Mesir, bukan hanya karena memang letak Mesir itu secara geografis ada di bagian selatan dari Israel, tetapi juga memasuki Mesir itu secara spriritual adalah seperti memasuki lembah nista, “turun” secara spriritual. Mengapa? Karena sebenarnya Abram adalah orang yang memegang teguh Monoteisme, setelah seumur hidupnya menganut Politeisme. Sekarang, malah dia kembali ke lingkungan yang penuh dengan penyembahan Politeisme – Mesir. Perhatikan ketika Abram kembali ke Kanaan, kata yang digunakan adalah NAIK.

Dalam perjalanan menuju Mesir untuk mempertahankan hidupnya, Abram tentunya memikirkan strategi bagaimana bisa tetap hidup, karena jangan sampai datang ke Mesir, bukannya hidup, tetapi malah ‘setor nyawa’. Abram mengetahui kelakuan orang Mesir, jika melihat wanita cantik, maka akan berusaha segala cara untuk mendapatkannya, jika sudah bersuami, maka suaminya itu akan dibunuh demi mendapatkan wanitanya. Sehingga Abram demi mempertahankan hidupnya menyampaikan sebuah strategi kepada Sarai, bahwa dia akan mengakui Sarai sebagai adiknya, dengan tujuan agar hidupnya terselamatkan, oleh karena Sarai, karena di Mesir, kakak laki-laki dari seorang wanita cantik itu bukan hanya pasti selamat, tetapi akan ‘dihujani’ oleh bermacam2 pemberian.

Motivasi utama Abram disini adalah MEMPERTAHANKAN HIDUP, seperti yang kita pelajari dalam Yudaisme, bahwa mempertahankan hidup, menempati prioritas utama.

 

TAWA ABRAHAM, TAWA SARAH 

Kita maju ke Bereishit 17. Disini Abram diberikan perjanjian sunat, lalu namanya diganti menjadi Abraham dan Sarah, setelah itu diberikan janji bahwa Sarah akan mengandung, dan yang disebut keturunan Abraham itu adalah anak Abraham dari Sarah, bukan dari orang lain.

Anak yang lahir dari pasangan ini diberi nama Ishak atau “Yitzchak” oleh Abraham. Arti nama ini adalah “tertawa”. Kebanyakan orang menganggap anak ini diberi nama demikian karena Sarah yang tertawa. Tetapi sesungguhnya tidaklah demikian. Nama “Yitzchak” diberikan berdasarkan tawa Abraham, bukan tawa Sarah. Mari kita bandingkan:

וַיִּפֹּ֧ל אַבְרָהָ֛ם עַל־פָּנָ֖יו וַיִּצְחָ֑ק
…dan Abraham tersungkur dengan mukanya sampai ke tanah dan tertawa. (Bereshit 17:17)

Dan:

וַתִּצְחַ֥ק שָׂרָ֖ה בְּקִרְבָּ֣הּ
…dan tertawalah Sarah di dalam hatinya. (Bereshit 18:12)

Ketika TUHAN memberitahukan kepada Abraham bahwa dia akan memperoleh seorang anak, Abraham tertawa. Kata yang dipakai di sini adalah “v’yitzchak“. Ketika tiga orang tamu Abraham mengatakan bahwa tahun depan, Sarah akan punya anak, Sarah pun tertawa. Tetapi kata yang dipakai di sini adalah “v’tizchak“.

Ketika Abraham tertawa (v’yitzchak) ada konotasi tertawa karena dalam ketakjuban. Ketika Sarah tertawa (v’titzchak) ada konotasi tertawa karena tidak percaya. Siapa nama anak yang lahir akhirnya? Yitzchak atau Titzchak? Yitzchak! Jadi nama anak itu diberikan berdasarkan tawa Abraham, bukan tawa Sarah.

TIGA TAMU ABRAHAM 

Sekarang, kita maju ke Parshat Vayeira (Bereishit 18).

Ayat pertama mengatakan:

TUHAN menampakkan diri kepada Abraham di Mamre, ketika dia sedang duduk didepan pintu masuk tendanya, ketika hari panas” (Bereshit 18:1)

Bagian akhir dari Parshat Lech Lecha ditutup dengan Abraham dan seisi rumahnya disunat. Pada ayat pertama Parshat ini, Abraham masih dalam masa pemulihan dari luka bekas sunat tersebut.

Hari sangat panas dan hal itu perlu disebut. Mengapa? Karena TUHAN sengaja membuatnya panas. TUHAN mengasihi Abraham, dan mengerti sifat Abraham yang penuh dengan hospitality. Dia tidak akan berdiam diri jika ada orang asing lewat di depan tenda nya. TUHAN sengaja membuat hari itu demikian panas, sehingga tidak ada orang yang mau keluar rumah dan jalan-jalan sehingga terlihat oleh Abraham. Dengan demikian, Abraham bisa duduk diam dan beristirahat.

Taurat mencatat di ayat 1, bahwa TUHAN menampakkan diri. Ini bukanlah sekedal penampakan ilahi yang biasa-biasa saja. Tetapi munculnya TUHAN di sini adalah seperti orang yang mengunjungi sahabatnya yang sedang sakit, menghibur dan menguatkannya.

Namun selagi dikunjungi oleh TUHAN, ternyata Abraham melihat di luar tenda nya ada tiga orang asing yang sedang berjalan. Maka segeralah Abraham meminta ijin kepada Hashem untuk menyambut orang itu, dan segera dia keluar dan meminta tiga orang itu untuk mampir ke tenda nya.

Katanya,

Tuanku, jika aku telah mendapat kasih tuanku, janganlah kiranya lampaui hambamu ini. (Bereshit 18:3)

Dengan kata lain, Abraham hendak mengungkapkan, “TUHAN, tunggu yah, jangan ke mana-mana dulu!”

Artinya, selagi dikunjungi oleh Tamu yang demikian penting, yaitu TUHAN sendiri, Abraham tetap saja meninggalkan Tamu ini, supaya bisa bekerja untuk melayani tiga orang asing ini, yang sedang berjalan melewati kemahnya.

Mengapa Abraham melakukan hal ini? Apabila kita dikunjungi oleh Presiden RI, dan tiba-tiba telepon berdering, mungkinkah kita mengangkat tangan kita terhadap Presiden dan mengatakan, “Tunggu, jangan kemana-mana dulu, saya harus jawab panggilan ini!”

Jawabannya ada pada bagian “Monoteisme VS Politeisme” di atas ini.

Ketika Abraham mengalami proses perubahan dari Politeisme ke Monoteisme, Abraham sebenarnya sedang menemukan bahwa ternyata hanya ada satu TUHAN yang Esa dan tidak terbatas. Oleh karena TUHAN yang tidak terbatas ini, maka, tidak ada yang dapat dilakukan oleh manusia ciptaanNya untuk membuat hidup TUHAN menjadi lebih baik. Dengan kata lain, manusia ada maupun tidak ada, tidak akan pernah mengubah TUHAN yang tidak terbatas ini. Dia sebenarnya tidak membutuhkan manusia.

Kalau demikian, mengapa TUHAN menciptakan manusia? Bukankah tidak ada yang dapat diberikan oleh manusia kepada TUHAN untuk membuat Dia lebih bahagia? Bukankah TUHAN yang Esa adalah TUHAN yang tidak terbatas?

Lalu Abraham sampai kepada satu kesimpulan, “TUHAN menciptakan manusia hanya karena satu alasan ini – chesed.” Chesed berarti kebaikan murni yang tidak menuntut balas. TUHAN menciptakan manusia, karena Dia ingin memberikan kebaikan, sekalipun manusia tidak akan pernah bisa membalas kebaikan TUHAN… karena TUHAN demikian tidak terbatas, dan tidak bisa diberikan hadiah yang dapat memuaskanNya.

Ketika pertama kali sampai kepada kesimpulan bahwa TUHAN yang menciptakan langit dan bumi ini adalah TUHAN yang Esa, TUHAN yang tak terbatas, dan TUHAN yang memiliki atribut chesed, Abraham jatuh cinta pada sifatNya ini – kebaikan tanpa pamrih (chesed). Gairahnya yang selalu ingin menjamu orang dan mengajar mereka tanpa pamrih, terinspirasi oleh TUHAN yang  bersifat chesed. Itu sebabnya, Abraham dikenal sebagai lambang kebaikan. Abraham adalah simbol chesed.

RECHILUT VS LASHON HARA

Pembahasan parsha ditutup dengan Bereishit 18:13. Di sini TUHAN yang mendengarkan gumaman Sarah, tidak memberitahukan seluruh gumaman itu kepada Abraham. Bandingkan apa yang dipikirkan oleh Sarah:

Akan nikmatkah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua? (Bereshit 18:12)

…dengan apa yang disampaikan oleh tamu itu kepada Abraham:

Mengapakah Sara tertawa dan berkata: Sungguhkah aku akan melahirkan anak, sedangkan aku telah tua?

Tamu itu sengaja menyembunyikan dua informasi dalam pikiran Sara di atas:

1.) Bahwa Sarah berpikir tidak mungkin dia akan menikmati hubungan intim dengan Abraham, karena sudah layu
2.) Bahwa Sarah meragukan apakah Abraham masih bisa berhubungan dengannya karena dia sudah tua.

Di sini, tamu tersebut sengaja menyembunyikan sebagian dari informasi, demi keutuhan dan kedamaian rumah tangga Abraham dan Sarah. Karena jika kedua hal ini diberitahu seluruhnya, Abraham pasti akan dipermalukan dan sakit hati mendengar itu.

Kita bisa belajar mengenai satu hal, yaitu keutuhan keluarga, keharmonisan dan kedamaian menempati prioritas utama. TUHAN memberi contoh bahwa untuk mencapai itu, harus ada hikmat untuk menyaring informasi.

Menyampaikan informasi kepada seseorang, sekalipun informasi itu benar, apabila akhirnya akan mengakibatkan pertikaian antara orang itu dengan orang lain, maka ini adalah dosa RECHILUT. Lebih baik sampaikan informasi yang disaring dan mempertahankan perdamaian, daripada seluruh informasi diberikan tetapi menciptakan pertikaian. Dosa ini lebih buruk daripada LASHON HARA.

(Lashon hara adalah segala penyampaian informasi yang merusak nama baik, dan kehidupan seseorang).

Popups Powered By : XYZScripts.com