Balada Nuh dan Abraham

Pengajaran Rabbi Tovia Singer yang disadur oleh Leo Yuwono.

Sebelum ibadah Shabbat minggu ini Rabbi memulai dengan penjelasan awal mengenai Abraham :

Keseluruhan kitab Bereishit (Kejadian) adalah tentang pencarian sebuah “keluarga kerajaan” yang dipandang oleh HaShem layak untuk menjadi bangsa yang kudus, bangsa Imam, yang akan diberi mandat untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa dan dipercayakan Torah. Kitab Kejadian ini menggunakan pendekatan zoom-out (memperbesar) dan zoom-in (memperkecil) seperti ketika kita melihat Google Maps, dalam penjelasannya. Contohnya: penciptaan diceritakan secara garis besar saja (zoom-out) tetapi ketika sampai kepada Abraham, maka mulai diperinci (zoom-in).

Keseluruhan kitab Kejadian terdiri atas 50 pasal; 10 pasal pertama berfungsi sebagai pengantar / prakata, untuk memberikan kepada kita latar belakang sebelum sampai kepada tokoh utama yaitu Abraham. Maka, Abraham baru bisa kita temukan di pasal 11, yang termasuk dalam Parshat Noah ini.

Seperti yang sudah dijelaskan dalam pengajaran Rabbi sebelumnya, Kitab Suci menggunakan metode jukstaposisi yaitu membandingkan dua hal kontras secara berdampingan, untuk menarik perhatian kita terhadap perbedaan dua hal tersebut dan mempelajarinya. Contohnya Saul dijukstaposisikan dengan Daud.

Di dalam parasha ini juga demikian, ada cerita menara Babel (Bereishit 11), di mana manusia dengan talenta dan keahlian yang dikaruniakan oleh HaShem, yaitu membuat batu bata, menggunakan talenta dan keahlian mereka justru untuk kepentingan dirinya sendiri, tidak perduli dengan HaShem. Batu bata boleh dikatakan sebagai ‘Batu yang bisa dibuat dengan bentuk dan ukuran sesuai keinginan manusia’. Batu bata ini dibuat dari tanah liat yang sifatnya lembek, tetapi jika dibakar dalam api akan menjadi sekeras batu, dan bisa digunakan untuk mendirikan bangunan kokoh.

Tidak ada yang salah dengan membuat batu bata, dan juga tidak ada yang salah dengan mendirikan bangunan tinggi (seperti gedung pencakar langit), tetapi masalahnya di sini adalah mereka yang mendirikan menara Babel ini mendirikan menara itu dengan maksud untuk kepentingan dirinya sendiri, membangun sebuah monumen/tugu peringatan bagi dirinya sendiri, sehingga namanya selalu dikenang dan kekal.

Hal ini kontras / bertolak belakang dengan manusia yang namanya Abraham. Abraham diceritakan dalam kitab-kitab suci seperti Talmud, Kitab Orang Jujur, bahwa sejak umur tiga tahun, dengan akalnya ia sudah bisa mengerti bahwa sebenarnya di dunia ini hanya ada satu TUHAN saja (berlawanan dengan kepercayaan lingkungannya, termasuk ayahnya yang menyembah banyak dewa). Waktu berlalu dan Abraham diceritakan juga menghancurkan patung-patung berhala milik ayahnya. Raja yang berkuasa saat itu yaitu Nimrod, ketika mendengar hal itu, menangkap keluarga Abraham dan memberikan pilihan untuk menyembah patung, atau dibakar dalam perapian. Abraham tanpa mempedulikan dirinya, tanpa ada jaminan akan selamat dari perapian, memilih masuk ke perapian itu daripada menyembah berhala, dan HaShem menyelamatkan dia, sehingga dia bisa keluar dari perapian tanpa tersentuh api sedikit pun. Melihat hal itu, ketika tiba giliran adiknya Haran untuk memilih, maka Haran pun memilih masuk, dengan pengertian bahwa jika Abraham selamat, maka mujizat yg sama akan berlaku juga bagi dia, jadi iman Haran bukan kepada HaShem, tetapi kepada mujizatnya itu. Dan yang terjadi adalah Haran terbakar ketika masuk dalam perapian itu.

Haran ini mati dengan meninggalkan anak, (Bereishit 11:27-32) yaitu Sarai dan Milkah. Disini kita lihat bagaimana Abraham juga tidak mengesampingkan kepentingan pribadinya, dengan melindungi dan berusaha meneruskan ingatan/ keturunan dari adiknya, yaitu Haran, dengan cara : menikahi anak dari Haran, yaitu Sarai. Maka Abraham anak pertama mengambil Sarai anak tertua Haran, lalu Nahor mengambil istri dari anak kedua haran yaitu Milkah. Torah menjelaskan bahwa Sarai mandul, tetapi tetap Abraham mengambil dia sebagai istri, tanpa mempedulikan dia mandul atau tidak. Orang yang egois tentu akan berkat, bagaimana saya akan dapat keturunan jika istri saya mandul, lebih baik tidak menikahi peremuan mandul ini. Di sinilah letak kebesaran Abraham, dia tetap ambil Sarai (yang artinya putriku, dan di kemudian hari HaShem mengubah namanya menjadi Sarah yang artinya putrinya HaShem) sebagai istrinya. Dan oleh karenanya, HaShem meberkati Abraham dengan berkata keturunanmu akan sebanyak bintang di langit dan pasir di laut, bahkan oleh keturunanmu ini, semua bangsa di bumi akan beroleh berkat.

Dari sini kita bisa mengerti, mengapa HaShem memilih Abraham sebagai orang pilihanNya yang akan melahirkan “keluarga kerajaan” yang dimaksud, dan bahkan HaShem memberi predikat “sahabatKu” kepada Abraham, karena Abraham berhasil mencapai level yang demikian tinggi yang boleh dikatakan setara dengan HaShem, sehingga HaShem tidak segan memanggil dia “sahabatKu”. Kualitas sifat yang tidak mementingkan diri sendiri, tetapi mencari kemuliaan HaShem agar nama HaShem ditinggikan ini terus ditunjukkan Abraham, mulai dari membela Lot yang disandera oleh Kedorlaomer dan sekutunya, sampai kepada taat untuk mempersembahkan Ishak anaknya yang tunggal itu.

Jadi inilah kualitas Abraham yang disukai oleh HaShem, sehingga para orang bijak kita, dan kita semua tentu sepakat bahwa Abraham adalah manusia terbesar yang pernah hidup di dunia ini.

Sekarang kita akan kembali ke awal Parshat Noah (Bereishit 6:9) :

“Inilah generasi Nuh, Nuh adalah orang benar dia sempurna di generasinya; Nuh berjalan bersama Tuhan.”

Ada dua penafsiran yang bias kita tarik dari kata “di generasinya (in his generation)” yaitu:

  1. Secara positif, Nuh adalah orang benar karena tetap bisa mempertahankan imannya, menjadi orang benar di hadapan Tuhan dan sempurna, di tengah-tengah generasinya yang semuanya sudah begitu rusak dan jahat (lihat ayat 12).
  2. Secara negatif, Nuh, walaupun dikatakan orang benar di generasinya, tetapi jika dia hidup di jaman Abraham, maka Abraham tetap akan lebih besar dari Nuh. Dia dapat dikatakan benar ketika dibandingkan dengan generasi di sekitarnya.

Bereishit (Kej) 6:11 :

וַתִּשָּׁחֵת הָאָרֶץ לִפְנֵי הָאֱלֹהִים וַתִּמָּלֵא הָאָרֶץ חָמָס:

“Bumi sudah menjadi rusak (corrupt) di hadapan Tuhan, dan bumi juga penuh dengan kekerasan / perampokan (robbery)”

Sangat menarik, kata kekerasan / perampokan / robbery, dalam bahasa Ibraninya adalah: חָמָס (baca: hamas). Nama ini mengingatkan kita akan sebuah organisasi yang penuh kekerasan bukan? Tetapi kata “hamas” bukanlah berarti sekedar kekerasan biasa. Tetapi “kekerasan yang gila”. Ini adalah kekerasan yang membabi buta dan tidak punya pola atau peraturan atau hukum. Berbeda dengan kekerasan Amalek yang penuh perhitungan dan bergerak di dalam perangkat hukum yang mereka ciptakan – persis seperti Nazi Jerman. Untuk mempelajari hubungan antara Amalek dan Jerman, silakan baca artikel ini: Hubungan Amalek dan Nazi Jerman.

Dalam posisi ini, bisa dikatakan bahwa bumi “diciptakan ulang” – lihat kata-kata yang digunakan mirip sekali dengan kata-kata penciptaan pertama (mula-mula). HaShem memberikati Nuh dengan berkat: “Beranak-cuculah dan bertambah banyaklah dan penuhi bumi” (Bereishit 10:1), berkat yang sama yang diberikan kepada Adam. Namun ada perbedaan yang cukup besar yaitu di penciptaan mula-mula, posisi manusia itu sejajar dengan binatang, dibuktikan dengan makanan manusia dan binatang adalah sama, yaitu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, tetapi semenjak air bah ini, maka Tuhan memberikan binatang sebagai makanan bagi manusia juga. Dan Tuhan juga memberikan kepada semua binatang rasa takut terhadap manusia. (Bereishit 10:2-4).

Perhatikan hal yang penting berikut ini, “Dan anak-anak Nuh yang keluar dari bahtera adalah Shem, Ham dan Yafet; dan Ham adalah bapa Kanaan.” Kita ingat di taman Eden, ada 4 sungai yang keluar dari Eden dan airnya mengalir ke seluruh bumi, ini berbicara mengenai manusia, artinya, manusia itu akan terbagi menjadi 4 golongan besar, yang artinya juga akan berasal dari 4 sumber. Jadi kita bisa menarik kesimpulan bahwa 4 sungai besar itu adalah golongan manusia yang berasal dari Shem, Ham, Yafet dan Kanaan.

Selanjutnya dikatakan bahwa Nuh menjadi mabuk oleh anggur, alkohol yang di dalam minuman anggur, kita semua tahu bisa mempengaruhi/merubah pikiran dari seseorang, yaitu menjadi mabuk, dan setelah mabuknya selesai, dan matanya terbuka, maka Nuh tahu dirinya telanjang, dan tahu apa yang telah terjadi terhadap dirinya. (Bereishit 9:20-24).

Persis dengan kejadian kejatuhan manusia, bukan? Dari sini kita tahu, bahwa buah yang dimakan oleh Adam dan Hawa yang disebut sebagai buah pengetahuan baik dan jahat adalah buah anggur.

Kita perhatikan ada bagian yang menarik di sini, yaitu Ham melihat ketelanjangan dari ayahnya, lalu dikutuk. Jika hanya sekedar melihat saja, mengapa sampai dikutuk? Ternyata kita bisa pelajari, bahwa Ham tidak sekedar melihat ketelanjangan ayahnya, tetapi ada hal yang cukup besar yang dia lakukan, mari kita lihat sama-sama dengan membandingkan ayat 22 dan ayat 24.

וַיַּרְא חָם אֲבִי כְנַעַן אֵת עֶרְוַת אָבִיו וַיַּגֵּד לִשְׁנֵי אֶחָיו בַּחוּץ:

Dan melihatlah Ham, ayah Kanaan, pada “ketelanjangan” ayahnya dan menceritakannya kepada kedua saudara laki-lakinya di luar.

Kata ketelanjangan di ayat 22 adalah: עֶרְוַת (baca: ervat). Kata ini kita temukan di dalam kitab Imamat yang membahas larangan seksual. Jadi kata “ervat” yang diterjemahkan sebagai “ketelanjangan” itu sebenarnya merujuk kepada sesuatu yang berhubungan dengan kelamin (seksual). Secara umum, Taurat selalu menggunakan bahasa yang halus dan santun, tidak vulgar, sehingga apabila kata vulgar tersebut digunakan, pasti ada yang hendak disampaikan. Artinya, apabila memang kata di sini adalah “ketelanjangan” yang maknanya tidak seksual, Torah tidak akan menggunakan kata “ervat” yang bermakna seksual.

Dari mana kita mengetahui Ham melakukan sesuatu kepada bapaknya, bukan sekadar “melihat ketelanjangannya”? Yaitu dari ayat 24:

וַיִּיקֶץ נֹחַ מִיֵּינוֹ וַיֵּדַע אֵת אֲשֶׁר עָשָׂה לוֹ בְּנוֹ הַקָּטָן:

Maka Nuh sadar dari mabuknya, dan dia mengetahui apa yang telah dilakukan oleh anaknya yang terkecil terhadap dirinya.

Para orang bijak kita mengajarkan yang dilakukan oleh Ham adalah mengebiri Nuh, bapaknya sendiri. Mengapa? Sekali lagi karena Ham adalah jenis manusia yang mementingkan dirinya sendiri. Mengetahui bahwa empat sungai di Eden adalah perlambang empat golongan besar manusia, dan Nuh saat itu baru memiliki 3 orang anak, maka Ham menginginkan nanti anaknya yang ke-4 yang menjadi sungai ke-4 itu. Sehingga dia tega mengebiri bapaknya sendiri, demi melanggengkan tujuannya.

Setelah sadar dari mabuknya, dan mengetahui perbuatan Ham terhadap dirinya, maka Nuh mengutuk Kanaan, anak ke-4 yang direncanakan oleh Ham. Dan Taurat tidak menyebutkan lagi bahwa Nuh memiliki anak-anak lagi. Karena memang Nuh sudah dikebiri. Itulah sebabnya Nuh “mengutuk” Kanaan dan bukan Ham, padahal yang melakukan kejahatan tersebut adalah Ham, bukan Kanaan.

Seharusnya warisan untuk menjadi sungai ke-4 itu bukanlah jatah anak Ham, tetapi jatah anak Nuh yang ke-4. Taurat mengatakan bahwa Nuh masih hidup 350 tahun sesudah air bah. Tetapi gara-gara dikebiri oleh Ham, selama 350 tahun ini, Nuh tidak lagi memiliki anak. Anak ke-4 berhasil dicegah untuk lahir oleh Ham.

Bereishit 10:28-29

“Dan Nuh hidup 350 tahun setelah air bah, dan umur Nuh seluruhnya adalah 950 tahun dan dia mati.”

Namun perhatikan bahwa kata yang digunakan untuk “menutuk” Kanaan di sini adalah arur:

וַיֹּאמֶר אָרוּר כְּנָעַן עֶבֶד עֲבָדִים יִהְיֶה לְאֶחָיו:

Dan Nuh berkata, “Terkutuklah Kanaan. Dia akan menjadi hamba bagi saudara-saudaranya.”

Seperti yang pernah kita pelajari, kata אָרוּר (baca: arur) yang artinya kutuk ini, bukanlah kutuk biasa, tetapi sebuah kutuk yang bertujuan untuk membangkitkan orang yang dimaksud, agar menjadi lebih baik (dalam kata arur ada unsur ohr atau cahaya/ terang).  Dan di sini juga bukti bahwa manusia “dinaikkan” tingkatnya, yaitu ayat ini adalah satu-satunya kejadian di mana kata arur diucapkan oleh manusia. Selain di sini, kata arur itu pasti diucapkan oleh HaShem.

Kanaan adalah produk dari Ham, seorang ayah yang hatinya penuh ke-egoisan dan kejahatan. Anak macam apa berani-beranian mengebiri ayahnya sendiri tanpa sepengetahuan dia? Dengan Ham sebagai ayah, Kanaan adalah anak yang “bermasalah” atau “pembuat onar”. Nuh melihat bahwa Kanaan menjadi bangsa yang selalu membuat masalah. Bayangkan, dan bangsa seperti inilah yang akan menjadi “sungai ke-4”! Seperti apa dunia ini jadinya kalau begitu?

Tetapi Nuh menemukan solusi untuk ini. Kanaan “dikutuku” dengan menjadi eved atau abdi terhadap Shem dan Yafet. Di dalam konteks Taurat, seorang budak bukanlah seperti “budak” yang kita pikirkan sekarang. Untuk lebih jelasnya mengenai konsep eved/ budak/ abdi, dalam Taurat, lihat artikel Eits Chaim mengenai perbudakan: Taurat dan Perbudakan.

Hanya apabila Shem atau Yafet merangkul keturunan Kanaan dan menjadikannya sebagai eved, maka Kanaan dan keturunan Ham lainnya akan bisa selamat dari kepunahan. Dalam hal ini, artinya, bangsa-bangsa Eropa (Yafet) dan Semitik (Shem), seharusnya merangkul bangsa-bangsa keturunan Kanaan untuk menjadikan mereka bagian dari bangsa-bangsa itu. Hanya dengan bertumbuh di bawah bimbingan bangsa-bangsa Yafet dan Shem inilah, Kanaan tidak akan merusak dirinya sendiri sampai punah.

Kita tahu bahwa keturunan Ham adalah bangsa kulit hitam Afrika, dan kita lihat bagaimana mereka saling membunuh dan menghancurkan ketika mereka menjadi bangsa sendiri, mengurus dirinya sendiri, tanpa menjadi bagian dari bangsa-bangsa lain. Perhatikan di Afrika, di negara-negara di mana mereka mengurus diri sendiri, mereka saling membunuh, saling menghancurkan, dan tindak tanduknya mendatangkan banyak kutuk penyakit (AIDS, ebola, dll).

Popups Powered By : XYZScripts.com