Yahudi Indonesia dan Papua Nugini

Foto: Elisheva (kiri) dan Abigail (kanan) dengan Rabbi Moshe Gutnick, salah satu anggota dari Beth Din di Sydney
dan kepala Organisasi Rabbi di Australasia.

Artikel di bawah ini adalah terjemahan langsung dari artikel berbahasa Inggris yang ditulis oleh Rabbi Yahudi Orthodox, Rabbi Yosef Serebryanski. Sumber aslinya dapat ditemukan di sini: “Jews of Indonesia and Papua New Guinea“.  

oleh Rabbi Yosef Serebryanski

Saat masih anak-anak di Australia, saya mendengar berita tentang seorang Israel yang memiliki sebuah hotel di Port Moresby, Papua Nugini. Sebelumnya, saya tidak pernah mendengar bahwa ada komunitas Yahudi di sana. Hal ini tidak mengejutkan, karena sejarah Yahudi di Papua, Papua Nugini dan juga Indonesia secara relatif tidak dikenal sampai hari ini. Keberadaan mereka mulai terdengar karena beberapa penduduk lokal di sana menghendaki untuk kembali kepada akar iman Yahudi mereka.

Indonesia adalah negara yang mayoritasnya adalah Muslim. Seorang politikus bernama Gus Dur menerima undangan untuk mengunjungi Israel di bulan Oktober 1994, namun  hal ini tidak banyak mengubah situasi di Indonesia, sampai Abdurrahman Wahid, demikian nama resminya, menjadi Presiden RI yang ke-4 (1999-2001). Selama masa pemerintahannya inilah kaum keturunan Yahudi mulai keluar dari persembunyian.

Tahun 2012, MetroTV meliput bahwa hampir 150 orang keturunan Yahudi dari seluruh Indonesia berkumpul bersama di Jakarta untuk merayakan Sukkot di sana.

Elisheva Wiriaatmadja, seorang Indonesia yang saat itu sedang menjalani proses konversi resmi Yahudi Orthodox, diundang untuk berbicara di gereja Mesianik di Papua. Para anggota gereja ini telah mendengar mengenai kelompok orang-orang Indonesia yang sedang menjalankan proses konversi secara resmi dan oleh karena itu hendak mendengar langsung mengenai perjalanan iman mereka.

Ketika berada di sana, Elisheva menemukan orang-orang yang merupakan keturunan langsung dari orang-orang Yahudi. Di tahun 1400 dan 1500-an, ketika bangsa Yahudi diusir dari Spanyol dan Portugal, banyak dari mereka berimigrasi ke Peru. Ketika penganiayaan mengikuti mereka ke Peru, beberapa kelompok melarikan diri ke Jepang dan yang lebih muda meneruskan ke Papua. Di sana, kebanyakan dari mereka campur kawin dan berasimilasi dengan penduduk lokal.

Ajaibnya, sampai sekarang salah satu suku di Papua ini memiliki lagu nina-bobo dengan lirik, “Dahulu kami adalah 12 bersaudara, namun 10 telah menghilang.” Ada beberapa marga di sana yang bernama Sukot, Tora dan Menorah. Ketika masih anak-anak, kaum leluhur mereka selalu mengajarkan untuk tidak boleh menginjakkan kaki di gereja karena itu merupakan sebuah “tempat penuh penipuan”.

Belakangan, para pemimpin dari jemaat-jemaat Mesianik di dua kota Papua berkumpul untuk memutuskan apakah mereka harus bertahan sebagai Mesianik atau mulai menjalani proses untuk kembali kepada agama leluhur mereka, Yahudi. Setelah Elisheva akhirnya menghubungi Rabbi Tovia Singer, rabbi Yahudi Orthodox yang dikenal sebagai rabbi anti-missionaris ini, terbang ke Papua untuk membantu mereka mengambil keputusan. Ajaibnya, 168 orang Papua, termasuk para pemimpin mereka meninggalkan gereja Mesianik mereka, dan memeluk kepercayaan Yudaisme.

Recently the hierarchy and attendees of the messianic churches in two Papuan cities gathered together to decide if they should remain Messianic or pursue a return to the religion of their ancestors. After Elisheva contacted Rabbi Tovia Singer, he flew down to meet with and help them. Amazingly, 168 Papuans, including their leaders, left the churches and embraced Judaism.

Pertemuan pertama saya dengan seorang Yahudi Indonesia adalah di Australia pada tahun 1979. Seorang yang berumur 54 tahun tiba di Yeshiva Gedolah di Melbourne di mana saya menimba ilmu. Ayahnya melarikan diri dari Nazi Jerman dan pindah ke Indonesia di mana pria ini dibesarkan. Dia datang ke Yeshiva pada hari itu untuk mencari seseorang yang dapat membantunya melakukan brit milah (sunat).

Selama beberapa thaun, kawan-kawan saya meminta saya untuk memonitor kelompok-kelompok yang berbeda di dalam Yudaisme dan membagikan pengetahuan saya dan keahlian saya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kelompok-kelompok ini mengenai Yudaisme. Di awal tahun 2013, saya memperhatikan bahwa ada beberapa orang di Indonesia yang ingin mempelajari Yudaisme. Pada bulan Juni tahun itu, saya berkorespondensi dengan Elisheva Wiriaatmadja, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan dan saya berbagi pengetahuan yang dalam dengannya mengenai rahasia-rahasia Taurat.

Elisheva bekerja dengan rajin untuk menerjemahkan Taurat dan buku doa ke dalam bahasa lokalnya. Dia juga memiliki program radio untuk mengajarkan khalayak umum tentang Taurat. Dengan menjawab begitu banyak pertanyaan-pertanyaannya, saya menjadi bagian dari perjalanannya dan juga perjalanan rohani orang-orang di sekitarnya. Dia adalah keturunan dari Yahudi Belanda yang dulu bekerja bagi perusahaan VOC. Bersama dengan adiknya, mereka kembali kepada akar Yahudi mereka dalam beberapa tahun belakangan ini.

Perjalanan mereka tidaklah mudah. Pada percobaan pertama untuk menjalani konversi resmi, pemimpin komunitas mereka, Benjamin Meier Verbrugge, mencoba menghubungi beberapa rabbi orthodox yang menolak mereka. Pada akhir tahun 2013, ternyata saya menemukan, bahwa tanpa adanya kepemimpinan Orthodox yang mengarahkan mereka, kerinduan mereka untuk kembali akhirnya membawa 75 orang anggota komunitas mereka kepada konversi yang non-halachic (tidak diterima secara hukum Yahudi). Ini adalah masalah yang besar yang terjadi di seluruh dunia. Ketiadaan bantuan dari pihak Orthodox bagi orang-orang yang hendak menjalani konversi, akhirnya membawa banyak orang kepada pihak-pihak yang menjanjikan konversi yang non-halachic.

Baruch Hashem (alhamdulilah), saya membantu Elisheva untuk memahami bahwa “konversi” ini tidaklah “kosher” (halal). Namun demikian, tetap saja konversi 75 orang ini menyebabkan gelombang reaksi dari komunitas-komunitas Kristen maupun Muslim di bagian dunia mereka ini. Itulah sebabnya gereja-gereja Mesianik di Papua pun mendengar kabar mengenai hal ini.

Kami menghabiskan banyak waktu untuk mencoba mencari cara agar kaum keturunan Yahudi di Indonesia dapat menjalani konversi yang halachic. Sesuai dengan saran saya, bulan Maret 2014, Elisheva menghubungi Rabbi Gutnick dari Beit Din Sydney, Australia, untuk mengatur proses konversi dengan beliau. Dia segera menjawab dalam beberapa jam kemudian, dan mengatakan bahwa “ajaibnya”, dia memang berencana akan datang ke Jakarta pada minggu itu untuk melakukan supervisi kosher bagi beberapa perusahaan di Indonesia. Pertemuan pertama dijadwalkan. Sejak pertemuan itu, beliau dengan rutin berhubungan dan bertemu dengan mereka, sampai akhirnya ada kelompok kecil yang menjalani konversi halachic dengan Rabbi Tovia Singer sebagai mentor mereka. Komunitas ini tersebar dan memiliki pemasukan yang terbatas. Saat ini mereka berusaha untuk menggalang dana agar dapat membayar guru-guru untuk mengajar mereka.

Sejak pertama kalinya bangsa Yahudi datang sebagai bagian dari VOC (berdiri tahun 1602) dan kehadiran mereka secara resmi di tahun 1872, kaum Yahudi tetap ada di daerah terpencil ini. Selain keturunan Belanda, Yahudi yang keturunan Iraq dan Aden juga ada di sana. Konon ada synagoge di Surabaya, yang telah dirubuhkan tahun 2013. Ada catatan-catatan dari para pelancong, termasuk dari Rabbi Yaakov Halevy Sapir di tahun 1800-an. Koran Zionist milik Israel Cohen di tahun 1900-an dan 19-40an, mendukung gagasan bahwa baik yang kawin campur maupun yang tidak, ada banyak orang Yahudi yang menetap di Indonesia.

Walaupun banyak orang bersembunyi dan menyangkal warisannya, mereka memang menetap di daerah ini. Sejarah Yahudi menunjukkan bahwa mereka telah melancong dan bermigrasi sepanjang Jalur Sutra yang terkenal itu. Tahun 1928, pusat penggalangan dana bagi gerakan Zionist di Israel juga beroperasi di Indonesia, Bandung, Malang, Medan, Padang, Semarang dan Yogyakarta. Kebanyakan dari mereka yang secara resmi masih menganut agama Yahudi meninggalkan Indonesia setelah PD2. Namun beberapa dari mereka tetap tinggal.

Sekalipun keturunan dari Yahudi VOC dan mereka yang tiba karena melarikan diri dari pengusiran Spanyol merupakan sejarah tertua yang diketahui mengenai keberadaan Yahudi di daerah ini, namun bangsa Yahudi telah ada di sana sebelumnya.

Sejarah Yahudi di bagian dunia tersebut sangatlah kaya. Banyak dari sejarah-sejarah itu akhirnya terungkap karena banyak dari keturunan mereka akhirnya hendak kembali kepada akar iman mereka. Bagi beberapa dari mereka, jarak antara leluhur yang Yahudi dengan mereka sendiri hanya selisih 100 tahun saja. Bagi kelompok yang lain, jaraknya bisa mencapai 1000 tahun. Namun demikian, yang menghubungkan mereka semua satu dengan yang lainnya adalah keinginan mereka yang membara untuk memulihkan hubungan mereka dengan TUHAN leluhur mereka dan bangsa mereka.

Sekalipun Yudaisme tidak termasuk di dalam 6 agama resmi yang diakui di Indonesia, baru-baru ini, sebuah jalan terbuka bagi komunitas Yahudi tersebut. Kementrian Agama RI telah menerima pendaftaran dan mengeluarkan SK bagi ijin operasional dan ibadah Kehilat Yehudim Torat Chaim, melalui Dirjen Bimas Kristen, karena belum adanya Dirjen Bimas Yahudi. Ke depannya, mereka akan membangun sebuah synagoge untuk ibadah, sekolah Yahudi bagi anak-anak keturunan dan sebuah toko kosher bagi keperluan makanan mereka yang khusus. Harapannya adalah bahwa ini akan membantu memuluskan perjalanan mereka agar Yudaisme dapat diakui sebagai agama resmi di Indonesia di masa depan.