Makna Rosh Hashanah

Ringkasan pengajaran Rabbi Tovia Singer pada malam Rosh Hashanah dan hari pertama Rosh Hashanah 1 Tishrey 5776, disadur oleh Leo Yuwono.

Apakah Rosh Hashanah itu? Rosh Hashanah adalah:

Tahun Baru

Rosh artinya adalah head/kepala , HaShanah artinya the year/tahun. Seperti yang kita ketahui Rosh Hashanah ini adalah Tahun Baru Yahudi 5776. Dari mana perhitungan 5776 itu? Rabbi menjelaskan bahwa 5776 itu dihitung dari penciptaan manusia pertama, yaitu Adam.

Mengapa dihitung dari penciptaan Adam? Rabbi menjelaskan lebih lanjut bahwa puncak dari segala penciptaan yang dilakukan oleh Hashem adalah manusia, bahkan Hashem menciptakan seluruh alam semesta ini untuk kepentingan satu makhluk saja, yaitu manusia. Dengan demikian, hari di mana manusia pertama kali diciptakan dan menjadi makhluk hidup, menjadi awal perhitungan kalender Yahudi, karena di hari itulah permulaan peradaban manusia.

Rabbi melanjutkan, memang jika kita mendengar/membaca ulasan para ilmuwan, banyak dari mereka menyatakan bahwa umur bumi dan peradaban manusia adalah sekitar 200 juta tahun. Rabbi pernah bertemu dengan seorang ilmuwan semacam ini di salah satu universitas di Amerika, dan Rabbi mengajukan pertanyaan, jika memang umur peradaban manusia sudah ada 200 juta tahun yang lalu, mengapa budaya tertua, bukti2 arkeologis tertua yang pernah diciptakan, kerajaan tertua, dinasti tertua, itu ditemukan sekitar 4.500 tahun sampai 5.000 tahun yang lalu? Apakah selama 150 juta tahun manusia tidak melakukan apa-apa sehingga tidak meninggalkan bukti sejarah sama sekali? Hal ini membuktikan bahwa memang manusia itu baru ada sekitar 5000-an tahun yang lalu.

Hari Penghakiman (Judgment Day)

Hari ini kita semua mengakui bahwa Hashem adalah Hakim atas semua. Hari ini seluruh alam semesta dihakimi, seluruh alam semesta termasuk binatang2, tumbuh-tumbuhan, air, tanah, udara, semua komponennya.

Torah mengajarkan bahwa setiap hari raya yang Tuhan perintahkan, haruslah dirayakan dengan sukacita. Perayaan dengan sukacita itu adalah sebuah mitzvah! Tetapi jika kita melihat definisi Rosh Hashanah yang adalah hari penghakiman, mengapa kita merayakannya? Dalam tatanan kehidupan manusia, tidaklah lazim jika seseorang yang berperkara di persidangan merayakan dengan gembira hari di mana penghakiman itu dilaksanakan. Pastilah semua orang akan mengambil waktu tenang, menenangkan diri, dan bersiap2 menghadapi penghakiman tersebut.

Rabbi menjelaskan bahwa kita dapat belajar dari Tanakh mengenai hal ini. Ada satu peristiwa Rosh Hashanah (dan hanya satu-satunya peristiwa Rosh Hashanah yang dituliskan dalam Tanakh) yang terjadi menjelang pembangunan bait suci ke-2 yaitu di zaman Ezra dan Nehemia. Peristiwa ini dicatat di dalam kitab Nehemia pasal 8. Ayat 1-2 menjelaskan bahwa segenap bangsa Israel berkumpul pada hari pertama bulan ketujuh, jelas ini adalah perayaan Rosh Hashanah. Lalu Ezra membacakan Torah kepada seluruh umat itu dari pagi sampai siang. Setelah mendengar pembacaan Torah itu (yaitu parshah terakhir dari kitab Devarim, yang isinya adalah penghakiman Tuhan atas Israel di mana Tuhan memperhadapkan berkat dan kutuk, dll.) bangsa itu mulai gemetar dan menangis serta meratap. Lalu Nehemia dan Ezra melarang mereka untuk bersedih, dan berkata “Hari ini adalah kudus bagi TUHAN. Jangan kamu berdukacita dan menangis! Pergilah kamu, makanlah sedap-sedapan dan minumlah minuman manis dan kirimlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa, karena hari ini adalah kudus bagi Tuhan kita! Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!’ (Nehemia 8:9-10).

Jelas Tanakh mengajarkan kita bahwa di Rosh Hashanah kita tidak boleh bersedih, justru harus merayakan dengan sukacita, makan makanan yang enak, dan berbagi dengan yang tidak mampu menyiapkan makanan agar mereka juga bisa bersukacita. Pertanyaannya sekali lagi, mengapa harus bersukacita? Rabbi menjelaskan dua hal berikut.

Pertama: Pada Rosh Hashanah, Hashem melakukan penghakiman terhadap seluruh alam semesta, seluruh ciptaannya; ada dua kitab yang dibuka dihadapanNya yaitu kitab kehidupan dan kitab kematian, lalu Hashem mulai menilai apa yang telah terjadi di jagat raya ini selama tahun yang lalu, dan Hashem mengambil keputusan kira-kira seperti ini, “OK, Aku tahu ada banyak kesalahan, ada banyak ketidaktaatan, tetapi Aku menetapkan untuk meneruskan jagat raya ini (termasuk manusia) dan memasukkan seluruh ciptaanKu dalam kitab kehidupan”. Hal ini diumpamakan seperti Hashem “mengulang pernikahanNya” dengan umat manusia, khususnya Israel. Walaupun ada banyak kesalahan dan ketidaksetiaan kita, Hashem tetap mau merangkul kita. Bukan hanya itu, bahkan hubungan Israel (termasuk kita di dalamnya) dengan Hashem justru menjadi lebih baik lagi.

Kedua: Duka cita, kesedihan, depresi, adalah cikal-bakal dari pemberontakan kita terhadap Hashem, asal muasal ketidakpercayaan kita, yang akhirnya membawa kita menjauh. Pemberontakan terhadap Hashem diawali dengan kesedihan, duka cita, depresi dan tekanan-tekanan negatif lainnya. Hal ini dijelaskan oleh Moshe Rabbinu dalam Ulangan 28:47, “Karena kamu tidak melayani Hashem Tuhanmu dengan sukacita dan rela hati, ketika kamu dalam kelimpahan.”

Hari pernyataan bahwa Hashem adalah Raja semesta

Pada hari ini kita juga menyatakan bahwa Hashem adalah Raja atas alam semesta, ditandai dengan peniupan Shofar dan juga doa yang kita naikkan pada saat ibadah, yang intinya menyatakan bahwa Hashem adalah Tuhan, dan juga kita merindukan (dinyatakan dalam bentuk doa) suatu hari di mana seluruh dunia, seluruh umat manusia mengetahui dan mengakui bahwa Hashem, adalah satu satunya Raja semesta.

Menyatakan Hashem sebagai Raja semesta juga bukti yang menyatakan bahwa manusia adalah ciptaan yang terutama, karena hanya manusia yang memiliki kemampuan intelektual yang dianugerahkan Hashem yang mampu menyadari bahwa Hashem adalah Raja.

Dengan menyatakan bahwa Hashem adalah satu satunya Raja semesta, kita menundukkan diri dibawah otoritasNya, percaya penuh kepadaNya, dan mengambil bagian dalam pekerjaanNya, yaitu membuat dunia ini menjadi lebih baik (Tikkun Olam).

Rosh Hashanah disebut juga Yom Teruah yaitu hari peniupan Shofar.

Shofar yang digunakan, jika memang tersedia, adalah Shofar yang dibuat dari tanduk domba jantan. Shofar lain juga dapat digunakan, misalnya dari tanduk kambing gunung (ibex) seperti yang digunakan oleh kaum Yahudi Yaman. Namun untuk Rosh Hashanah, adalah lebih baik menggunakan shofar yang terbuat dari tanduk domba jantan. Mengapa ?

Dengan meniupkan shofar tanduk domba jantan, kita menyerukan kembali anugerah dan rahmat yang Hashem berikan kepada Abraham, yaitu ketika Hashem menyediakan domba jantan untuk dikorbankan menggantikan Yitzhak. Apa yang telah dilakukan oleh Abraham dengan taat inilah yang menghasilkan apa yang kita nikmati sekarang. Abraham diuji 10 kali oleh Hashem, dan ujian terakhir adalah ketika dia diminta untuk mengorbankan Yitzhak anak satu-satunya, anak yang dijanjikan oleh Hashem sendiri. Ketaatan Abraham ini dan anugerah Hashem yang menyediakan domba jantan inilah yang kita serukan dengan membunyikan Shofar yang terbuat dari domba jantan.

Jenis suara yang diperintahkan untuk Shofar ketika ditiup ada tiga jenis :

  1. Tekiah yaitu suara panjang tidak terputus
  2. Shefarim yaitu tiga suara pendek terputus
  3. Teruah yaitu sembilan suara sangat pendek diakhiri dengan satu suara panjang

Teruah atau suara terputus-putus ini adalah suara rengekan atau tangisan yang tersedu-sedu, melambangkan hidup kita yang tidak taat, dan suka melenceng. Sedangkan Tekiah itu adalah lambang keutuhan, kemurnian, hidup yang lurus dan taat dengan Torah. Peniupan Shofar selalu diawali dan diakhiri dengan Tekiah.

Lalu mengapa hari raya ini justru dinamakan Yom Teruah yaitu suara yang melambangkan tangisan yang tersedu-sedu? Alasannya adalah karena untuk dapat kembali kepada Tekiah yaitu keutuhan, kemurnian, hidup yang lurus, setiap orang selalu harus melalui tahap Teruah atau tangisan penyesalan yang tersedu-sedu terlebih dahulu.

(Untuk cara peniupan, berkat sebelum peniupan, dan aturannya bisa dilihat di Rosh Hashanah Machzor halaman 612-624.)