Balada Hidup Saul (1)

Serial artikel “Balada Hidup Saul” dibuat untuk menjawab pertanyaan salah satu murid Kelas Online Eits Chaim Mevaserim Center mengenai Saul. 

Sebelum Israel memiliki Daud sebagai raja… sebelum TUHAN menetapkan kerajaan Daud sebagai cikal bakal kerajaan Mesianik di akhir zaman, Israel dipimpin oleh seorang raja bernama Saul. Pemilihannya sebagai raja oleh TUHAN sudah menimbulkan tanda tanya bagi bangsa Yahudi. Saul berasal dari suku Benyamin (I Sam 9:1-2), padahal nubuat sejak zaman Yakub adalah bahwa tongkat kerajaan atas 12 suku Israel akan datang dari suku Yehuda (Kej 49:9-10). Mengapa TUHAN mengangkat seseorang dari suku Benyamin untuk menjadi raja? Untuk menjawab pertanyaan ini dan menceritakan balada hidup Saul, kita perlu mengerti satu konsep imam dan raja di dalam Taurat.

Memahami Imam dan Raja

Di Gunung Sinai, sebelum dosa anak lembu emas terjadi, TUHAN sudah menetapkan bahwa Israel akan menjadi bangsa yang ke-12 sukunya berfungsi sebagai “kohanim” bagi TUHAN. Arti dari kata Ibrani “kohanim” adalah “para penatalayan” (jamak). Bentuk tunggal dari “kohanim” adalah “kohen“. Seseorang yang ditetapkan menjadi seorang “kohen” tidak dapat menjadi raja. Demikian juga sebaliknya. Seseorang yang ditetapkan menjadi raja, tidak dapat menjadi “kohen“. Sebelum TUHAN turun atas Gunung Sinai, Israel ditetapkan sebagai bangsa (kerajaan) yang sepenuhnya terdiri dari kaum “kohen“. Artinya, yang dapat menjadi raja atas bangsa kaum penatalayan (pelayan) hanyalah TUHAN sendiri.

וְאַתֶּ֧ם תִּהְיוּ־לִ֛י מַמְלֶ֥כֶת כֹּהֲנִ֖ים וְג֣וֹי קָד֑וֹשׁ 
“Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan kohanim (kaum penatalayan) dan bangsa yang kudus.” (Kel 19:6)

Sekilas kelihatannya ada konflik antara nubuat Yakub dengan ketetapan TUHAN. Di satu pihak, Yakub menubuatkan bahwa dari Yehuda akan keluar seorang raja yang kerajaannya berlangsung selamanya. Di pihak lain, TUHAN menetapkan Israel sebagai bangsa (kerajaan) yang berisi penatalayan semua, yang hanya dapat dipimpin oleh TUHAN sendiri sebagai rajanya. Di sini kita melihat bagaimana kehendak bebas manusia serta ketetapan TUHAN yang kekal akhirnya bergerak dan menjalankan kehendak dan rencana TUHAN yang sempurna.

Dosa Israel yang menyembah patung anak lembu emas akhirnya menghalangi ke-12 suku Israel itu untuk berfungsi sebagai kohanim. Setiap keluarga diperintahkan untuk menebus setiap anak sulungnya yang seharusnya diserahkan sebagai “kohen” bagi TUHAN dengan cara memberikan uang kepada satu orang anggota suku Lewi. Anggota suku Lewi ini akan menggantikan anak sulung ini dan hidup sebagai kohen atau penatalayan bagi TUHAN. LAI menerjemahkan kata “kohen” menjadi “imam”. Arti sebenarnya adalah “steward” atau “pelayan” atau “penatalayan”. Tugas mereka adalah melayani TUHAN di Bait Suci maupun dalam synagoge-synagoge. Ritual ini disebut dengan pidyon haben dan ditetapkan dalam Bil 3:11 dst. Sampai sekarang, pidyon haben masih dilakukan di antara bangsa Yahudi Orthodox yang tradisional.

Ritual pidyon haben dilakukan pada saat seorang anak sulung (laki-laki) berumur 30 hari. Seorang Kohen atau seseorang yang keturunan Lewi akan menghampiri orang tua anak sulung ini. Mereka akan ditanya apakah anak ini akan diserahkan untuk menjadi penatalayan TUHAN seumur hidup atau apakah orang tuanya akan menebusnya. Biasanya keluarga Yahudi yang bukan berasal dari suku Lewi akan menebus anak tersebut dengan mempersembahkan 5 shekelim yang terbuat dari perak kepada seorang Kohen. Dengan demikian, anak sulung ini akan dibebaskan dari pertanggung-jawaban untuk menjadi penatalayan TUHAN. (Bahasa gereja adalah “hamba TUHAN yang full-timer”).

Setelah penyembahan anak lembu emas terjadi, seluruh suku Israel menebus anak sulung mereka masing-masing. Maka ditetapkanlah suku Lewi sebagai suku yang akan berfungsi sebagai kohanim TUHAN, bukan lagi ke-12 suku Israel. Belakangan Musa menubuatkan bahwa pada suatu titik di dalam sejarah Israel, bangsa ini akan membutuhkan seorang raja. Mereka bukan lagi sebuah bangsa yang terdiri dari kohanim semuanya. Suatu saat mereka akan menuntut dan membutuhkan seorang raja. Musa melihat dan menubuatkan hal ini, dan mengatakan, apabila waktu itu tiba, dimana mereka meminta seorang raja, maka mereka hanya boleh menerima raja yang TUHAN sendiri pilih. Bukan yang dipilihkan oleh TUHAN.

“Apabila engkau telah masuk ke negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Elohimmu, dan telah mendudukinya dan diam di sana, kemudian engkau berkata: Aku mau mengangkat raja atasku, seperti segala bangsa yang di sekelilingku, maka hanyalah raja yang dipilih TUHAN, Elohimmu, yang harus kauangkat atasmu.” (Ul 17:14-15)

Ketika sudah tiba waktunya Israel membutuhkan raja, bangsa itu merengek dan menuntut, tanpa melihat bahwa seharusnya mereka menunggu waktu TUHAN yang sempurna. Dua tahun sesudah Saul diurapi menjadi raja, Daud diurapi menjadi raja (1 Sam 13:1). Tetapi butuh waktu 9 tahun bagi Daud untuk mendirikan kerajaannya sesudah pelariannya dari Saul.

Seandainya Israel mau menunggu sampai waktunya tiba bagi seorang dari suku Yehuda dibangkitkan menjadi raja, mungkin seluruh balada hidup Saul akan berbeda. Saul adalah pilihan TUHAN yang bersifat sementara. Krisis Israel sudah sedemikian besar, tuntutan mereka sedemikian merusak, sehingga mau tidak mau, TUHAN memilih satu-satunya orang yang ketika itu paling layak untuk jadi raja, sementara menunggu raja yang TUHAN pilih disiapkan.

“Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.” (Hak 21:25)

Mengenai ayah Saul, Kish, Tanakh menjelaskan:

“Ada seorang dari daerah Benyamin, namanya Kish bin Abiel, bin Zeror, bin Bekhorat, bin Afiah, seorang suku Benyamin,
seorang yang berada.” (1 Sam 9:1)

“Seorang yang berada” dalam bahasa Ibrani adalah “gibor chayil“. “Gibor” berarti besar atau perkasa. “Chayil” memiliki arti yang sangat dalam yaitu seorang yang berhikmat, layak dihormati, berkuasa, memiliki perkenanan dari manusia dan TUHAN, kaya raya, berpengaruh dan berpihak pada hamba-hamba TUHAN. Di sini kita melihat bahwa di tengah-tengah krisis Israel, dan di tengah-tengah tuntutan bangsa akan raja, hanya ada satu yang layak di mata TUHAN untuk menjadi raja sementara. Setidaknya sampai raja dari suku Yehuda, yang TUHAN sedang siapkan, sudah siap untuk diluncurkan.

Tetapi sekali lagi TUHAN memakai kehendak bebas Israel ini untuk menebus masa lalu. Dengan terpilihnya Saul dari suku Benyamin menjadi raja sebelum Daud dibangkitkan dari suku Yehuda, Benyamin memiliki kesempatan untuk membalaskan apa yang telah dilakukan oleh Yehuda di Mesir. Untuk penjelasan hal ini, silakan baca 09 – Parashat Vayeshev.

Silakan meneruskan ke artikel Balada Hidup Saul (2).

kingspriests