Balada Hidup Saul (4)

Selain membiarkan ternak-ternak bangsa Amalek hidup, Saul memutuskan untuk tidak menggubris perintah TUHAN dan menyelamatkan Agag, raja Amalek. Tindakan ini bukan hanya merupakan sebuah kejahatan terhadap TUHAN, tetapi juga kejahatan terhadap seluruh Israel dan bangsa Yahudi sepanjang zaman.

Amalek: Musuh Bebuyutan TUHAN

Saul sengaja memberontak terhadap TUHAN dan membawa Agag, raja Amalek itu dalam keadaan hidup. Samuel segera menyuruh untuk memanggil Agag, dan mencincangnya.

Lalu berkatalah Samuel: “Bawa ke mari Agag, raja Amalek itu.” Dengan gembira Agag pergi kepadanya, sebab pikirnya: “Sesungguhnya, kepahitan maut telah lewat.” Tetapi kata Samuel: “Seperti pedangmu membuat perempuan-perempuan kehilangan anak, demikianlah ibumu akan kehilangan anak di antara perempuan-perempuan.” Sesudah itu Samuel mencincang Agag di hadapan TUHAN di Gilgal. (1 Sam 15:32-33)

Selesai bukan? Kesalahan Saul telah diperbaiki. Agag, raja Amalek sudah mati. Sudah tidak ada lagi orang Amalek yang tersisa. Selesai bukan?

Maumu!

Ratusan tahun kemudian, Agag, raja Amalek itu, sudah kembali lagi menjadi sebuah bangsa. Tanakh hanya mencatat bahwa Saul membawa pulang Agag. Pengakuan dari mulut Saul adalah bahwa semua orang Amalek yang lain telah dia tumpas. Namun seberapa kita dapat mempercayai mulut Saul? Karena ternyata, ada keturunan Agag ketika itu, entah ada berapa, yang telah lolos dari kematian, dan berhasil berkembang lagi menjadi sebuah bangsa bernama bangsa “Agag”.

Haman, yang menjadi musuh Ester, musuh Mordekhai dan musuh bangsa Yahudi di zaman Persia, adalah pemimpin bangsa Agag.

Sesudah peristiwa-peristiwa ini maka Haman bin Hamedata, orang Agag, dikaruniailah kebesaran oleh raja Ahasyweros, dan pangkatnya dinaikkan serta kedudukannya ditetapkan di atas semua pembesar yang ada di hadapan baginda. (Est 3:1)

Sejak zaman Saul, Amalek diam-diam berkembang menjadi sebuah bangsa, bangsa Agag. Nama bangsa itu adalah nama berdasarkan raja Amalek yang terakhir, raja Agag, yang ketika itu dibiarkan hidup oleh Saul. Tanakh tidak mencatat bagaimana keturunan Agag ini akhirnya dapat lolos dan terus beranak-cucu dan bertambah banyak sampai menjadi satu bangsa. Dari bangsa Agag ini, akhirnya lahir dan bangkitlah seorang yang membenci bangsa Yahudi — Haman. Kebencian ini diwariskan turun-temurun dengan dendam, sejak kematian raja Agag sampai kepada generasinya.

Dalam kitab Ester kita tahu bagaimana Haman, orang Agag itu, berencana untuk memusnahkan bangsa Israel. Dan dalam kitab Ester kita juga tahu bagaimana nama TUHAN tidak disebut di dalam kitab tersebut, seolah-olah TUHAN tidak ada. Tetapi bangsa Yahudi pada zaman itu harus tahu persis siapa Haman, keturunan raja Agag itu. Seandainya mereka tahu, mereka juga tahu bahwa mereka akan dibebaskan dari Haman. Dan itulah yang dipercayai oleh Mordekhai.

Mordekhai menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Ester: “Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain,…” (Est 14:13-14)

Mengapa? Karena peperangan ini bukan antara bangsa Yahudi dengan bangsa Agag. Peperangan ini adalah antara Amalek dan TUHAN.

TUHAN berperang melawan Amalek turun-temurun.
(Kel 17:16)

Kesalahan Saul berakibat fatal bukan hanya bagi statusnya yang ketika itu masih raja. Tetapi juga berakibat fatal bagi keselamatan seluruh Israel dan bangsa Yahudi di zaman Ester. Bukan hanya itu. Kesalahannya juga berakibat fatal bagi keselamatan seluruh bangsa Yahudi di zaman Perang Dunia II. Bukan hanya itu. Kesalahannya juga berakibat fatal bagi keselamatan seluruh bangsa Yahudi sampai detik ini. Amalek mewakili semua bangsa yang tergabung dalam Gog dan Magog — mereka yang memiliki keraguan intelektual mengenai tanah Israel, bangsa Yahudi dan TUHAN.

Menolak bahwa tanah Israel adalah milik Israel, berarti menolak bahwa Israel adalah umat pilihan TUHAN yang kepadanya tanah itu diberikan oleh TUHAN. Menolak Israel sebagai umat pilihan, berarti menolak bahwa Taurat adalah firman TUHAN yang memberitakan Israel sebagai umat pilihan. Menolak Taurat sebagai firman TUHAN sama dengan menolak TUHAN itu sendiri. Dengan segala logika yang canggih dan fakta-fakta sejarah yang dipelintir, bangsa Amalek menjadi roh dibalik semua keraguan intelektual yang terjadi di antara bangsa-bangsa.

Amalek adalah putra Esau  (Kej 36:12) yang juga disebut Edom (Kej 36:1). Semua orang Amalek atau keturunan Amalek adalah juga keturunan Edom. Siapa Edom di masa sekarang?

Dalam Mzm 137, Daud melihat masa depan, dimana Yerusalem dimusnahkan. Ketika itu bangsa Roma belum ada, sehingga tidak mungkin Daud dapat mengenali orang Roma yang memusnahkan Yerusalem. Tetapi Daud melihat siapa nenek moyang bangsa Roma itu. Di zaman Daud, nenek moyang ini sudah dikenal dengan luas — Edom.

Ingatlah, ya TUHAN, kepada bani Edom, yang pada hari pemusnahan Yerusalem mengatakan: “Runtuhkan, runtuhkan sampai ke dasarnya!” (Mzm 137:7)

Pada tahun 70M, ketika Yerusalem dibakar sampai rata dengan tanah, Edom muncul dalam bentuk kerajaan Roma. Di abad ke-3, Roma menjadi satu dengan kekristenan, ketika Kekristenan menjadi agama resmi kerajaan di bawah Konstantin. Dalam konteks sejarah ini, di mata bangsa Yahudi, Edom = Roma = Kekristenan. Amalek, yang adalah keturunan Edom, ada di antara bangsa-bangsa dan negara-negara yang berlandaskan/ berazaskan kekristenan — terutama di benua Eropa dan benua Amerika. Mereka memiliki ciri khas “intelektualitas” yang dapat dibaca dalam artikel ini: Hubungan Amalek dan Nazi Jerman.

Sampai detik ini, janji TUHAN yang dicatat oleh Musa di dalam Taurat masih belum tergenapi. Janji itu berbunyi bahwa kenangan/ ingatan akan Amalek akan dihapuskan dari kolong langit.

Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Tuliskanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan ingatkanlah ke telinga Yosua, bahwa Aku akan menghapuskan sama sekali ingatan kepada Amalek dari kolong langit.” (Kel 17:14)

Janji ini akan tergenapi dan harus tergenapi sebelum Moshiach ben David (Mesias Anak Daud) datang. Namun demikian, seperti dengan kasus Haman, orang Agag itu, bukan tangan bangsa Yahudi-lah yang akan menggenapinya, melainkan tangan TUHAN sendiri.

haman

1 Comment

Comments are closed.

Popups Powered By : XYZScripts.com