Balada Hidup Saul (3)

Setelah Samuel menyadari bahwa Saul membiarkan Agag, raja Amalek hidup, nabi itu menangis histeris, sampai semalam-malaman.  Hal pertama yang dia lakukan pada pagi harinya adalah mengkonfrontasi Saul dan memperhadapkan dia dengan dosa yang telah dia lakukan. Bagaimana Saul bereaksi?

Hati Yang Tidak Bertobat

Dari semua dosa Daud yang pernah dilakukannya, TUHAN mengampuni Daud dengan begitu mudahnya. Ketika nabi Natan mengkonfrontasi raja dengan dosanya tersebut, Daud tidak berkata apa-apa yang lain, selain, “Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” Titik. Tidak ada alasan. Tidak ada excuse. Dan hati yang demikianlah yang secara instan menerima pengampunan TUHAN.

Lalu berkatalah Daud kepada Natan: “Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” Dan Natan berkata kepada Daud: “TUHAN telah menjauhkan dosamu itu.” (2 Sam 12:13)

Sekarang, mari kita perhatikan bagaimana Saul bereaksi ketika Samuel mengkonfrontasinya dan memperhadapkannya dengan dosanya. Saul mengelak 3x dengan jawabannya — yaitu dengan mengkambing-hitamkan rakyat, dan ngeles serta memberi alasan bodoh bahwa ternak itu diperuntukkan bagi persembahan bagi TUHAN.

Persembahan bagi TUHAN?? Apabila Saudara mengerti mengapa TUHAN memerintahkan agar ternak-ternak Amalek pun dimusnahkan, Saudara akan memahami bahwa ide untuk mempersembahkan ternak itu kepada TUHAN adalah — sekali lagi — sebuah pemberontakan yang frontal terhadap TUHAN. Sama saja Saul meludahi TUHAN tepat di mukaNya.

Dalam ayat berikut ini, kita membaca bagaimana Saul mencari-cari alasan untuk pertama kalinya:

Ketika Samuel sampai kepada Saul, berkatalah Saul kepadanya: “Diberkatilah kiranya engkau oleh TUHAN; aku telah melaksanakan firman TUHAN.”

Tetapi kata Samuel: “Kalau begitu apakah bunyi kambing domba, yang sampai ke telingaku, dan bunyi lembu-lembu yang kudengar itu?”

Jawab Saul: “Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Elohimmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas.”
(1 Sam 15:13-15)

Dalam jawaban yang berikutnya, Saul tetap ngotot bahwa dia telah mendengarkan dan mentaati TUHAN. Namun pernyataan tersebut dilanjutkan dengan kata “tetapi”. Sekali lagi, dia mencari-cari alasan.

Aku memang mendengarkan suara TUHAN dan mengikuti jalan yang telah disuruh TUHAN kepadaku dan aku (memang) membawa Agag, raja orang Amalek, TETAPI orang Amalek itu sendiri telah kutumpas.  TETAPI rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Elohimmu, di Gilgal.” (1 Sam 15:20-21)

Betapa kurang ajarnya jawaban Saul. Dia mengklaim bahwa dia sudah melaksanakan perintah TUHAN, lalu dengan gaya yang menantang, bahkan menyebut bahwa dia MEMANG membawa Agag, raja Amalek itu, dalam keadaan hidup! Dengan kata lain, Saul mengatakan, “Cuma satu orang saja kok yang hidup, yaitu Raja Agag. Yang lain sudah kutumpas. Cincai-lah!”

Dalam jawaban yang ketiga Saul seolah-olah mengakui bahwa dia bersalah, tetapi sekali lagi, pengakuan bersalahnya itu diikuti dengan alasan yang dicari-cari.

Berkatalah Saul kepada Samuel: “Aku telah berdosa, sebab telah kulangkahi titah TUHAN dan perkataanmu; TETAPI aku takut kepada rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka.” (1 Sam 15:24)

Bandingkan sekali lagi dengan cara Daud merespon ketika nabi Natan menunjuk dosanya. Daud hanya mengatakan 2 patah kata dalam bahasa Ibrani:

חָטָאתִי לַיהֹוָה
Chatati l’adonai
Aku telah berdosa terhadap TUHAN.
(2 Sam 12:13)

Tidak ada kata “tetapi” di belakangnya. Tidak ada alasan. Tidak ada excuse. Sementara Daud menerima pengampunan dari TUHAN hampir secara instan, Saul ditolak oleh TUHAN. Tetapi penolakan TUHAN hanyalah terjadi karena Saul sebelumnya telah menolak TUHAN terlebih dahulu, dengan berpihak pada Amalek (lihat Balada Hidup Saul (2)).

“Maka sekarang, ampunilah kiranya dosaku; kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada TUHAN.”

Tetapi jawab Samuel kepada Saul: “Aku tidak akan kembali bersama-sama dengan engkau, sebab engkau telah menolak firman TUHAN; sebab itu TUHAN telah menolak engkau, sebagai raja atas Israel.”

Ketika Samuel berpaling hendak pergi, maka Saul memegang punca jubah Samuel, tetapi terkoyak. Kemudian berkatalah Samuel kepadanya: “TUHAN telah mengoyakkan dari padamu jabatan raja atas Israel pada hari ini dan telah memberikannya kepada orang lain yang lebih baik dari padamu.”
(1Sa 15:25-28)

Karena hati Saul tidak “nyambung” dengan hati TUHAN mengenai Amalek, Saul juga tidak menyadari, bahwa dosanya kepada TUHAN menjadi kejahatan yang besar juga terhadap Israel dan bangsa Yahudi di generasi-generasi mendatang, sampai zaman kita ini.

Alasan mengapa TUHAN menolak Saul, sekali lagi ditekankan kembali, ketika Saul memanggil arwah Samuel, setelah Samuel meninggal (baca 1 Sam 28). Perhatikan bahwa Tanakh Ibrani tidak menyangkal bahwa ada orang-orang yang memakai kuasa sihir untuk memanggil arwah. Namun, yang terpenting adalah tindakan kita, apakah kita akan mengikuti cara bangsa-bangsa atau cara TUHAN?

Arwah Samuel muncul dengan jubah yang dia pakai ketika dikubur. Kaum chazal Yahudi mengajarkan dari sini, bahwa bagaimana seseorang itu berpakaian ketika dikubur, demikian juga dia nanti akan dibangkitkan. Arwah Samuel menegaskan kembali kesalahan Saul yang mengakibatkan dia ditolak oleh TUHAN:

Lalu berbicaralah Samuel: “Mengapa engkau bertanya kepadaku, padahal TUHAN telah undur dari padamu dan telah menjadi musuhmu? TUHAN telah melakukan kepadamu seperti yang difirmankan-Nya dengan perantaraanku, yakni TUHAN telah mengoyakkan kerajaan dari tanganmu dan telah memberikannya kepada orang lain, kepada Daud. Karena engkau tidak mendengarkan suara TUHAN dan tidak melaksanakan murka-Nya yang bernyala-nyala itu atas Amalek, itulah sebabnya TUHAN melakukan hal itu kepadamu pada hari ini. (1 Sam 28:16-18)

Saul tidak melaksanakan mandatnya sebagai raja pertama Israel. Dia tidak mengeksekusi penghakiman yang TUHAN hendak jatuhkan atas Amalek. Itulah kesalahan fatalnya.

Silakan meneruskan ke Balada Hidup Saul (4).

saul

One thought on “Balada Hidup Saul (3)

Comments are closed.