Balada Hidup Saul (2)

Ketika Saul menjabat sebagai raja, ada satu perintah penting yang berasal dari TUHAN yang gagal dipenuhi olehnya. Kegagalan ini berakibat sangat fatal. Bukan hanya bagi Israel pada zaman itu atau zaman sesudahnya, tetapi juga bagi bangsa Yahudi di dunia ini pada zaman ini.

Pemberontakan Frontal Saul: Amalek

Segera sesudah diurapi, Saul dipercayakan oleh TUHAN untuk melaksanakan rencana penghakimanNya yang sudah lama terpendam. Selama masa jabatannya sebagai raja sementara, tugas Saul diberi sebuah misi – menumpas Amalek sampai kepada ternak-ternaknya. 

Berkatalah Samuel kepada Saul: “Aku telah diutus oleh TUHAN untuk mengurapi engkau menjadi raja atas Israel, umat-Nya; oleh sebab itu, dengarkanlah bunyi firman TUHAN. Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir. Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.”  (1Sa 15:1-3)

Tetapi Saul sengaja menggagalkan misi yang TUHAN percayakan pada dirinya. Perhatikan bahwa ayat berikut ini menjelaskan bagaimana kegagalan Saul bukannya tidak disengaja. Dengan sengaja, Saul melanggar perintah itu:

Lalu Saul memukul kalah orang Amalek mulai dari Hawila sampai ke Syur, yang di sebelah timur Mesir. Agag, raja orang Amalek, ditangkapnya hidup-hidup, tetapi segenap rakyatnya ditumpasnya dengan mata pedang. Tetapi Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: TIDAK MAU mereka menumpas semuanya itu. Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka. (1Sa 15:7-9)

Kegagalan ini merupakan pemberontakan frontal Saul terhadap TUHAN. Saul menerima perintah langsung dari TUHAN untuk menumpas Amalek dan ternak-ternaknya. Melanggar perintah langsung ini ibarat seorang prajurit perang yang melanggar perintah langsung dari komandannya. Pelanggaran ini merupakan masalah yang sangat serius dalam dunia militer. Dengan TUHAN, hal ini bahkan bermakna jauh lebih dalam.

Sebagai prajurit yang sengaja memberontak dan melanggar perintah langsung, Saul telah gagal. Tetapi sebagai manusia yang seharusnya memiliki hubungan pribadi dengan TUHAN-nya, Saul lebih gagal lagi.

Saul gagal menangkap isi hati TUHAN. Dia gagal merasakan apa yang TUHAN rasakan. Gagal berpikir seperti TUHAN berpikir. Jantungnya gagal berderap dengan irama yang sama dengan TUHAN. Saul gagal memahami kedalaman makna dibalik perintah yang terdengar sadis itu. “Musnahkan Amalak”, kata TUHAN. “Anak-anak, wanita dan ternak!” kata TUHAN. “Jangan ada belas kasihan!” kata TUHAN. Saul gagal menangkap isi hati TUHAN yang menjadi sumber keluarnya perintah-perintah ini.

Darimana perintah ini berasal? Mengapa sepertinya TUHAN begitu dendam pada Amalek? Siapa Amalek ini? Sebelum kita membahas mengenai Amalek dan apa yang dia lakukan sehingga membuat TUHAN dendam padanya, kita akan membahas arti dari namanya terlebih dahulu.

Amalek (עֲמָלֵק) memiliki nilai angka atau gematria 240, sama dengan kata Ibrani safek (ספק) yang berarti “keraguan”. Esensi dari neshama bangsa Amalek adalah keraguan intelektual. Dengan kecanggihan teknologi yang begitu maju, dengan ilmu pengetahuan yang demikian berkembang, dengan segala filsafat dan agama dunia yang menguasai pemikiran manusia, benarkah memang ada TUHAN? Itulah Amalek – sebuah bangsa yang sekalipun telah melihat segala kedahysatan TUHAN, menyaksikan segala demonstrasi kuasaNya, tetap tidak dapat diyakinkan bahwa TUHAN ada. Tetap ada keraguan intelektual.

Amalek adalah musuh bebuyutan TUHAN. Dia adalah semangat/ gagasan/ roh dibalik Gog dan Magog — yaitu bangsa-bangsa atap — yang lebih percaya buatan tangan dunia ini daripada buatan tangan TUHAN. Amalek dengan Gog dan Magog mengabaikan fakta kuasa TUHAN dan menutupinya dengan logika intelektual. Amalek adalah musuh bebuyutan TUHAN, yang akhirnya menyerang TUHAN dengan cara menyerang Israel. (Lebih dalam mengenai Gog dan Magog dan apa artinya, silakan dengarkan rekaman siaran radio ini: Eits Chaim Episode 15.)

Ketika bangsa Israel baru saja menyeberangi Laut Merah, mereka sampai kepada padang gurun Sin, dimana tidak ada air. Mereka baru saja menyaksikan kedayshatan kuasa TUHAN. Bahkan bangsa-bangsa lain mendengar tentang laut yang dibelah, dan mereka gentar.

Dalam Kel 17, bangsa Israel mulai kembali meragukan TUHAN. Walaupun baru saja mengalami kedahsyatan kuasa TUHAN yang luar biasa, kerohanian mereka dilanda keraguan yang hebat. Sedemikian hebatnya keraguan tersebut, sampai-sampai mereka bertanya-tanya apakah TUHAN ada atau tidak.

Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” (Kel 17:7)

Roh dan iman mereka sedang dilanda keraguan. Apa yang sedang dialami oleh kerohanian Israel, ternyata termanifestasi dalam kehidupan fisik mereka. Satu ayat setelah keraguan ini terungkap, Taurat mencatat bahwa Amalek, yaitu bangsa yang esensinya adalah keraguan akan TUHAN, tiba-tiba menyerang mereka secara fisik.

Lalu datanglah orang Amalek dan berperang melawan orang Israel di Rafidim. (Kel 17:8)

Apa sebenarnya yang sedang terjadi di sini?

Secara rohani, Israel diserang oleh keraguan intelektual: sekalipun mata mereka telah menyaksikan kebesaran TUHAN, intelektual mereka tetap terserang oleh keraguan akan beberadaanNya.

Secara fisik, Israel diserang oleh Amalek – esensi keraguan intelektual: sekalipun ketika itu bangsa-bangsa telah mendengar tentang kekalahan Mesir oleh TUHAN-nya orang Israel yang demikian dahsyat, mereka tidak ada kegentaran sama sekali. Seolah hendak menantang situasi dan mencibir, “Kalaupun TUHAN mereka dapat membelah air laut, so what? Emang kenapa? Emang gue jadi takut pada Israel? Emang gue jadi gentar terhadapTUHAN mereka? Hanya dongeng belaka!”

Mereka tetap menghadang Israel di tengah jalan. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Bangsa Israel bahkan tidak punya urusan apa-apa dengan mereka. Tetapi sekonyong-konyong mereka menyerang Israel. Padahal tidak ada alasan politis atau militer untuk menyerang Israel. Satu-satunya alasan mereka adalah karena bangsa ini adalah Israel, mereka punya dongeng tentang TUHAN yang perkasa. Penyerangan ini hanya upaya untuk membuktikan bahwa Amalek lebih kuat. Amalek lebih berkuasa. Tidak ada kegentaran dan ketakutan akan TUHAN. Tidak ada yang namanya bangsa pilihan.

Kecongkakan dan keraguan intelektual ini adalah musuh bebuyutan TUHAN. Dengan murka, TUHAN memerintahkan kepada Musa:

“Ingatlah apa yang dilakukan orang Amalek kepadamu pada waktu perjalananmu keluar dari Mesir; bahwa engkau didatangi mereka di jalan dan semua orang lemah pada barisan belakangmu dihantam mereka, sedang engkau lelah dan lesu. Mereka tidak takut akan Elohim. Maka apabila TUHAN, Elohimmu, sudah mengaruniakan keamanan kepadamu dari pada segala musuhmu di sekeliling, di negeri yang diberikan TUHAN, Elohimmu, kepadamu untuk dimiliki sebagai milik pusaka, maka haruslah engkau menghapuskan ingatan kepada Amalek dari kolong langit. JANGANLAH LUPA!” (Deu 25:17-19)

Pesan TUHAN bagi bangsa Israel adalah untuk menghapus memori dunia ini akan Amalek. Amalek harus dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Dia harus terhapus dari dunia ini, sampai tidak ada bangsapun yang mengingat namanya, sampai tidak ada satu orang pun menyebut-nyebut lagi namanya. JANGAN LUPA!

Amalek adalah musuh bebuyutan TUHAN. Terhadap Amalek, TUHAN telah mendeklarasikan perang sampai turun-temurun. Tidak peduli sudah berapa generasi lewat sejak Amalek generasi pertama menyerang Israel di Rifadim, bagi TUHAN, dengan Amalek, TUHAN berperang selamanya. Hal ini tercatat di dalam Taurat, setelah Yoshua mengalahkan bangsa itu di Rifadim.

Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang. Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Tuliskanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan ingatkanlah ke telinga Yosua, bahwa Aku akan menghapuskan sama sekali ingatan kepada Amalek dari kolong langit.” Lalu Musa mendirikan sebuah mezbah dan menamainya: “Tuhanlah panji-panjiku!” Ia berkata: “Tangan di atas panji-panji TUHAN! TUHAN berperang melawan Amalek turun-temurun.” (Kel 17:13-16)

Itulah sebabnya Saul dibebankan untuk menumpas bangsa Amalek. Mulai dari pria dan wanita dewasa, sampai kepada anak-anak, dan bahkan ternaknya. Ternak adalah properti seseorang, seperti halnya dengan tanah, rumah, istana dst. Menumpaskan ternak mereka sebenarnya berarti menumpas properti, kekayaan, harta milik mereka. Dengan cara itu, tidak ada yang tertinggal dari bangsa Amalek supaya nama Amalek tidak lagi disebut-sebut di dunia ini. Ketika Saul mempertahankan ternak dan membagi-bagikannya kepada prajuritnya, dia sedang mempertahankan milik “AMALEK”. “Darimana sapi ini?” – “Oh hasil tumpasan perang dengan AMALEK!” Nama “AMALEK” akan terus disebut.

Saul adalah raja pertama Israel. Mandat istimewanya adalah memusnahkan memori Amalek dari dunia ini. Itu merupakan beban yang TUHAN percayakan kepada Saul sebagai raja Israel yang pertama. Ketika Saul gagal, kegagalannya merupakan pemberontakan yang serius. Saul telah menyerang TUHAN secara frontal, karena dia tidak menanggapi dengan serius kedalaman kejahatan Amalek di mata TUHAN.

Perhatikan apa pendapat TUHAN mengenai kegagalan Saul itu:

נִחַמְתִּי כִּי הִמְלַכְתִּי אֶת שָׁאוּל לְמֶלֶךְ
Menyesal Aku, karena Aku memilih Saul menjadi raja

כִּי שָׁב מֵאַחֲרַי
Karena dia putar balik (berpaling) melawanku
(1 Sam 15:11)

Keputusan Saul untuk menyelamatkan Agag dan ternak-ternaknya sama saja dengan mengatakan kepada TUHAN, bahwa dia berpihak pada Amalek — pada keraguan intelektual yang tidak gentar kepada TUHAN.

Silakan meneruskan ke Balada Hidup Saul (3).

zakhoramalek

2 thoughts on “Balada Hidup Saul (2)

Comments are closed.