‘Mujizat’ Irigasi Israel

Bulan lalu, kelompok perusahaan Cina Yuanda Enterprise Group membeli perusahaan Israel AutoAgronome Israel Ltd. seharga US$20 juta. Perusahaan Israel tersebut memproduksi sistem irigasi dan fertilisasi cerdas bagi lebih dari selusin negara. Shelley Glaser dari Jewish Media Agency menginvestigasi asal muasal dan kesuksesan dari sistem irigasi tetesan khas Israel yang terkenal di seluruh dunia ini.

Di Israel, buah-buahan, sayur-sayuran dan gandum-ganduman tumbuh di padang pasir. Walaupun tampak seperti khayalan belaka bagi yang mengunjunginya, sesungguhnya tidak demikian. Hal ini merupakan kenyataan, berkat para perintis yang datang menetap di wilayah yang gersang dan hampir gersang di Israel di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Sejak kemerdekaan politis Israel di tahun 1948, wilayah tanah Israel yang menjadi wilayah perkebunan telah meluas dari 1.650km2 menjadi 4.300km2. Produksi pertanian telah meningkat tiga kali lipat lebih banyak daripada pertumbuhan populasi. Bagaimanakah hal ini dapat dicapai?

Di tahun 1930an, di tengah-tengah gurun Negev, insinyur air Israel, Simcha Blass, membuat sebuah penemuan penting. Ia memperhatikan bahwa satu pohon di tanahnya tampaknya bertumbuh lebih cepat daripada tanaman di sekitarnya. Alasannya? Ternyata ada pipa air yang bocor dekat pohon tersebut sehingga mengairi tanah di sekitarnya, setetes demi setetes. Blass mulai bereksperimen dan akhirnya berhasil menciptakan sistem irigasi tetesan.

irigasi

Konsepnya sederhana. Alih-alih menggunakan sistem alat penyiram biasa yang membasahi seluruh bidang tanah tanpa pandang bulu, sistem irigasi tetesan melepaskan air ke dalam tanah setetes demi setetes, hanya di tempat di mana dibutuhkan. Di tahun 1959, Blass memperkenalkan model pertama – selang plastik yang dilubangi dengan beberapa lubang kecil – dan meminta sebuah kibbutz untuk memproduksi dan mendistribusikannya.

Enam tahun kemudian, perusahaan Netafim yang baru berdiri memperkenalkan irigasi tetesan volume rendah kepada seluruh dunia. Saat ini sistem ini digunakan di lebih dari ratusan negara, termasuk di negara-negara seperti Peru, Senegal, Mesir, Rusia, Meksiko dan Amerika Serikat. Alasan kesuksesannya adalah karena dibandingkan dengan sistem penyiraman biasa, sistem irigasi tetes menggunakan hanya setengah dari jumlah air yang digunakan alat penyiraman biasa.

Sandra Postel dari Freshwater Initiative, National Geographic, mengatakan bahwa ketika populasi dunia meningkat dan kekurangan air menjadi masalah, salah satu tantangan paling mendesak adalah mencari cara memperoleh lebih banyak “panen per tetes” untuk memenuhi kebutuhan pangan. Ia berkata bahwa sistem irigasi tetes, yang menyalurkan air secara langsung ke akar tumbuhan dengan jumlah yang pas, dapat melipatgandakan produktivitas air – meningkatkan produktivitas sambil menghemat air, dengan demikian memperoleh lebih banyak “panen per tetes”.

Sebagai akibat dari kekeringan di Israel tahun 1990-1991, pasokan air bagi petani dikurangi sebanyak lebih dari 50 persen untuk mengatasi kekurangan air, dan walaupun para petani pada jangka pendek terdampak secara negatif, mereka berhasil beradaptasi melalui investasi yang substantif dalam teknologi irigasi tetes yang terkomputerisasi sehingga menurunkan kebutuhan air mereka dalam jangka panjang. Jadi, misalnya, antara tahun 2000-2005, sektor buah-buahan – walaupun mengalami pengurangan pasokan air sebanyak rata-rata 35 persen – mengalami kenaikan produksi sejumlah 42 persen.

Dr. Daniel Hillel, seorang ilmuwan air dan tanah Israel serta anggota pendiri kibbutz Sde Boker di gurun Negev, menerima penghargaan World Food Prize 2012 berkat penelitian perintisnya dalam pengembangan teknik irigasi tetes. Penghargaan ini diberikan kepada pribadi yang telah berkontribusi dalam kemajuan perkembangan manusia dengan memperbaiki kualitas, kuantitas atau ketersediaan pangan bagi dunia. Ia berkolaborasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Bank Dunia untuk menerapkan dan menyebarkan metode irigasi yang lebih baik.

Dalam sebuah wawancara dengan Wall Street Journal, ia menjelaskan bahwa teknologi ini harus terus diinovasi dan disesuaikan dengan jenis panen. Misalnya, teknologi irigasi tenaga surya kini telah dikembangkan. Dan bahan pipa plastik yang digunakan dalam sistem terkadang diganti dengan keramik, karena lebih berpori. Irigasi tetes bisa dibilang telah menjadi inovasi dunia di bidang pertanian yang paling berharga. Petani semakin menyadari betapa berharganya sumber daya air, dan bagaimana penggunaan dan pengelolaan air secara efisien dapat membantu pertanian, dan bagaimana teknologi irigasi tetes dapat berdampak positif bagi masyarakat secara umum. Irigasi tetes telah, dan akan terus memberi manfaat bagi pangan dunia. (aw)

Penulis: Shelley Glaser, Jewish Media Agency
Sumber: Jewish Media Agency